Rabu, 14 Desember 2016

PANGERAN LIMA SENJATA DAN SI RAMBUT LENGKET

Suatu ketika, Sang Boddhisatva terlahir sebagai putra Raja dan Ratu Benares. Pada hari pemberian nama, 800 peramal diudang ke istana. Dan sebagai hadiah, mereka diberi apapun yang mereka inginkan untuk menyenangkan mereka. Dan mereka diminta untuk meramalkan nasib sang pangeran kecil, agar mereka dapat memberikan nama yang sesuai untuknya. Salah satu peramal ahli dalam membaca tanda tanda di badan. Ia berkata, “Tuanku, ini adalah berkah dari jasa-jasa anda. Dia akan menjadi raja penerus kerajaan ini.” Para peramal itu sangat pandai. Mereka mengatakan apapun yang ingin diketahui raja dan ratu. Mereka mengatakan, “Anakmu akan menjadi ahli 5 senjata. Dan akan menjadi orang terhebat dalam menguasai 5 senjata ini di seluruh India.” Berdasarkan hal ini, raja dan ratu memberi nama kepada anaknya ‘Pangeran Lima Senjata’ 

Saat pangeran berusia 16 tahun, raja memutuskan agar ia pergi belajar. Dia berkata, “Pergilah anakku, ke kota Takkasila. Disana kamu akan menemui guru yang paling terkenal. Pelajari apapun yang kamu bisa darinya. Dan berikan uang ini sebagai pembayarannya”. Dia memberikan seribu uang emas dan mengantarkan perjalanannya. Pangeran pergi ke guru terkenal di Takkasila ini. Dia belajar dengan rajin dan menjadi murid terbaik sang guru. Saat sang guru telah mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya, dia memberikan pangeran hadiah khusus untuk kelulusannya. Dia memberikan sang pangeran lima buah senjata dan mengembalikan sang pangeran ke Benares. 

Dalam perjalanan pulang, dia melewati hutan yang dihuni oleh raksasa. Para penduduk memperingatkan Pangeran Lima-Senjata, “Anak muda, jangan lewati hutan itu. Disana ada raksasa mengerikan yang bernama Rambut-Lengket. Dia membunuh semua yang dilihatnya!” Tetapi sang pangeran percaya diri dan tidak takut bagaikan seekor singa muda. Sehingga dia memasuki hutan, dan akhirnya menemui raksasa yang menakutkan itu. Raksasa itu setinggi pohon, dengan kepala sebesar atap rumah dan matanya sebesar piring makan. Dia memiliki dua taring kuning dan besar yang kelihatan keluar dari mulutnya yang menyeringai dengan giginya yang coklat jelek. Dia memiliki perut yang sangat besar dan bertotol-totol putih serta memiliki tangan dan kaki berwarna biru. Raksasa itu meraung dan menggeram kepada sang pangeran, “Kemana kau akan pergi, manusia kecil? Kamu kelihatannya enak sekali. Aku akan menelan kamu!” Pangeran baru menyelesaikan pelajarannya dan telah memenangkan penghargaan tertinggi dari gurunya. Sehingga ia merasa telah mengetahui segalanya, dan dapat melakukan segalanya. Dia menjawab, “Oh mahluk kejam, aku adalah Pangeran Lima-Senjata, dan aku sengaja datang ke sini untuk menemui kamu. Aku menantang kamu beradu kekuatan! Aku akan membunuh kamu hanya dengan dua senjata – busur dan panah beracunku.” Kemudian dia membidik panahnya ke raksasa itu. Tetapi panah itu lengket ke rambutnya, seperti lem, tanpa melukai raksasa itu sama sekali. Kemudian pangeran terus membidik raksasa sampai 50 panah beracunnya habis. Tetapi semuanya langsung lengket ke rambutnya, sehingga dinamai Rambut-Lengket. Kemudian mahluk itu mengguncangkan badannya, dari kepalanya yang jelek seukuran atap rumah sampai kakinya yang berwarna biru. Dan semua panah itu jatuh ke tanah. 

Pangeran Lima-Senjata memakai senjatanya yang ketiga, pedang sepanjang 33 inchi. Dia menusukkannya ke musuhnya. Tetapi pedang itu juga langsung lengket ke rambut yang lengket dan tebal itu. Kemudian dengan senjata keempatnya, dia menombak si raksasa, dan langsung melekat di rambut lengket. Setelah itu, ia menyerang dengan senjata terakhirnya yang kelima, dan langsung tongkatnya juga lengket ke rambut itu. Kemudian sang pangeran berteriak, “Hey kamu, raksasa, pernahkan kamu mendengar namaku, Pangeran Lima-Senjata? Aku memiliki lebih dari lima senjata. Aku memiliki kekuatan dari badanku yang muda. Akan kupatahkan badanmu berkeping-keping!” Dia memukul Rambut-Lengket dengan kepalan kanannya, seperti petinju. Tetapi tangannya lengket ke rambutnya, dan tak bisa melepaskannya. Kemudian dia memukul dengan tangan kirinya, tetapi ini juga melekat erat di rambut itu. Kemudian dia menendang dengan kaki kiki kemudian kaki kanan, seperti ahli ilmu bela-diri, tetapi keduanya juga lengket ke rambut yang berantakan itu. Kemudian dia menyerang raksasa itu dengan kepalanya sekeras mungkin seperti pegulat dan akhirnya kepalanya pun tak bisa lepas dari rambut raksasa itu.

Meskipun lengket di lima tempat, sang pangeran tetap tidak takut. Si Rambut-Lengket berpikir, “Sangat aneh, dia lebih mirip singa daripada manusia. Bahkan terjebak dengan raksasa ganas seperi aku, dia tidak takut. Selama ini, aku telah membunuh banyak orang dalam hutan ini, tak ada seorangpun seperti pangeran ini. Mengapa dia tidak takut sama sekali? Karena Pangeraa Lima-Senjata tidak seperti orang-orang lain, si Rambut-Lengket takut untuk langsung memakannya. Sehingga dia bertanya, “Anak muda, mengapa kamu tidak takut akan kematian?” Pangeran menjawab, “Mengapa aku harus takut mati? Tak ada yang meragukan setiap yang dilahirkan pasti mati!” 

Kemudian Sang Boddhisatva berpikir, “Lima senjata yang diberikan oleh guru yang paling terkenal di dunia ini telah tak berguna. Bahkan kekuatanku yang seperti singa tak berguna. Di luar guruku, badanku, aku harus mendapatkan senjata dari pikiranku, satu-satunya senjata yang aku perlukan.” Pangeran kemudian melanjutkan,”Ada hal kecil, hai raksasa, yang belum aku katakan kepadamu. Senjata rahasiaku ada di perutku, sebuah batu intan yang tak dapat kau cerna. Itu akan memotong ususmu sampai hancur jika kamu menelanku. Sehingga jika aku mati, maka kamu mati! Sehingga aku tak takut padamu.” Dengan cara ini, sang pangeran menggunakan kekuatan kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk meyakinkan si Rambut-Lengket. Dia sekarang mengerti bahwa senjata terbaik ada dalam pikirannya sendiri, yaitu batu intan yang berharga yang dinamakan kecerdasan. Rambut-Lengket berpikir, “Tak salah lagi, pasti orang pemberani ini menyatakan kebenaran. Bahkan jika aku makan potongan badannya sebesar kacang polong, aku tak akan bisa mencernanya. Aku akan membebaskannya.” Takut akan kematiannya sendiri, ia membebaskan Pangeran Lima-Senjata. Dia berkata, “Kau adalah orang yang hebat. Aku tak akan memakan dagingmu. Aku bebaskan kamu, seperti bulan yang muncul setelah gerhana, kau pun akan bersinar diantara sahabat dan keluargamu.”
Sang Boddhisatva telah mengalami pertempuran melawan raksasa Rambut-Lengket dan telah mengetahui bahwa senjata yang paling berharga adalah kecerdasan, bukan senjata yang ada di luar. Dan dengan senjata ini, dia juga mengetahui bahwa mencabut jiwa mahluk hidup hanya akan mengakibatkan penderitaan bagi si pembunuh. Dengan penuh terima kasih dia megatakan kepada raksasa yang tak beruntung itu, “Oh Rambut-Lengket, kamu terlahir sebagai mahluk pembunuh pemakan daging, karena perbuatan jahatmu yang lampau. Kamu hanya akan pergi dari kegelapan ke kegelapan yang lain. Sekarang kamu telah membebaskan aku, kamu tak akan bisa membunuh dengan gampang. Dengarlah, membunuh mahluk hidup akan membawa kesengsaraan dalam dunia, dan kemudian akan terlahir di neraka, atau sebagai hewan atau setan kelaparan. Bahkan jika kamu cukup beruntung untuk terlahir menjadi manusia, kamu akan memiliki umur pendek!” Pangeran Lima-Senjata kemudian terus mengajar Rambut-Lengket, sehingga raksasa itu setuju menjalankan lima aturan kemoralan. 

Dengan cara ini dia berubah dari raksasa menjadi peri penjaga hutan yang bersahabat. Dan ketika dia meninggalkan hutan, pangeran menceritakan tentang berubahnya raksasa itu kepada penduduk sekitar. Dan untuk selanjutnya mereka memberi makan kepadanya secara teratur dan hidup dengan damai. Pangeran Lima-Senjata kembali ke Benares. Kemudian dia menjadi raja. Akhirnya ia meninggal dan terlahir di alam yang sesuai.

Jumat, 24 Januari 2014

Kisah Mahakala Thera

Mahakala dan Culakala adalah dua saudagar bersaudara dari kota Setabya. Suatu ketika dalam perjalanan membawa barang-barang dagangannya mereka berkesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang diberikan oleh Sang Buddha. Setelah mendengarkan khotbah tersebut Mahakala memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai salah satu anggota pasamuan bhikkhu. Culakala juga ikut bergabung dalam anggota Sangha tetapi dengan tujuan berkenalan dengan para bhikkhu dan menjaga saudaranya.
Mahakala bersungguh-sungguh dalam latihan pertapaannya di kuburan (Sosanika Dhutanga), dan tekun bermeditasi dengan obyek kelapukan dan ketidak-kekalan. Akhirnya ia memperoleh “Pandangan Terang” dan mencapai tingkat kesucian arahat.
Di dalam perjalanan-Nya, Sang Buddha bersama murid-murid-Nya, termasuk Mahakala dan Culakala, singgah di hutan Simsapa, dekat Setabya. Ketika berdiam di sana, bekas istri-istri Culakala mengundang Sang Buddha beserta murid-murid Beliau ke rumah mereka untuk menerima dana makanan. Culakala sendiri terlebih dulu pulang untuk mempersiapkan tempat duduk bagi Sang Buddha dan murid-murid-Nya.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh bekas istri-istri Culakala untuk merayunya, agar ia mau kembali kepada mereka.
“Kakanda, alangkah kurusnya engkau sekarang. Tentu selama ini kakanda sangat menderita. Mari, adinda bersedia memijit kakanda untuk menghilangkan lelah, seperti dahulu kala. O, kakanda, marilah kita bergembira seperti dahulu lagi”.
Pada dasarnya Culakala memang tidak tekun dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sebagai bhikkhu. Mendengar berbagai rayuan dan rangsangan, batinnya tidak kuat. Nafsunya tergugah, tanpa pikir panjang lagi dilemparkannya jubahnya dan kembalilah ia kepada kehidupan duniawi, sebagai perumah tangga.
Melihat para istri Culakala berhasil mendapatkan suaminya kembali, para istri Mahakala pun tidak mau kalah. Pada hari berikutnya, bekas istri-istri Mahakala mengundang Sang Buddha bersama murid-murid-Nya ke rumah mereka, dengan harapan mereka dapat melakukan hal yang sama terhadap Mahakala.
Setelah berdana makanan, mereka meminta kepada Sang Buddha untuk membiarkan Mahakala tinggal sendirian untuk melakukan pelimpahan jasa (anumodana). Sang Buddha mengabulkan. Bersama murid-murid lain Beliau meninggalkan tempat tersebut.
Sewaktu tiba di pintu gerbang dusun, para bhikkhu mengungkapkan kekhawatiran dan keprihatinan mereka. Mereka merasa khawatir karena Mahakala telah diijinkan untuk tinggal sendiri. Mereka merasa takut kalau terjadi sesuatu, seperti Culakala saudaranya, sehingga Mahakala juga akan memutuskan untuk meninggalkan pasamuan bhikkhu, kembali hidup bersama bekas istri-istrinya.
Terhadap hal ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kedua saudara itu tidak sama. Culakala masih menuruti kesenangan nafsu keinginan, malas, dan lemah; dia seperti pohon lapuk. Mahakala sebaliknya. Tekun, mantap, dan kuat dalam keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha; dia seperti gunung karang.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 7 dan 8 berikut ini:
Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat; maka Mara (Penggoda) akan menguasai dirinya, bagaikan angin menumbangkan pohon yang lapuk.
Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya terkendali, sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat, maka Mara (Penggoda) tidak dapat menguasai dirinya bagaikan angin yang tidak dapat menumbangkan gunung karang.
Saat itu bekas istri-istri Mahakala mengelilinginya dan berusaha merayu agar Mahakala melepaskan jubah kuningnya. Mahakala mengetahui upaya mereka, maka ia tetap berdiam diri saja. Tetapi, istri-istrinya berusaha lebih keras lagi. Melihat itu, Mahakala merasa tak ada gunanya lagi berdiam di situ. Ia berdiri, dengan kemampuan batin luar biasa ia melesat ke angkasa melewati atap rumah. Ia tiba tepat di bawah kaki Sang Buddha saat Beliau tengah mengakhiri pembabaran dua syair di atas.