Suatu hari, beberapa bhikkhu sedang berjalan pulang dari menerima dana makanan. Ketika hujan turun, mereka berteduh di suatu gedung pengadilan. Saat berada di sana, mereka melihat bahwa beberapa orang hakim, setelah menerima uang suap, membebaskan suatu perkara.
Mereka melaporkan masalah ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata, "Para bhikkhu! Dalam memutuskan suatu perkara, jika seseorang terpengaruh oleh rasa cinta atau pertimbangan keuangan, dia tidak dapat disebut sebagai ‘yang adil’ atau ‘hakim yang sesuai dengan hukum`. Jika seseorang menimbang bukti-bukti dengan teliti dan memutuskan suatu kasus secara tidak memihak maka ia disebut ‘yang adil’ atau ‘hakim yang sesuai dengan hukum’."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Na tena hoti dhammaṭṭho yen’atthaṃ sahasā naye
yo ca atthaṃ anatthañ ca ubho niccheyya paṇḍito.
Asāhasena dhammena samena nayatī pare
dhammassa gutto medhāvī dhammaṭṭho ti pavuccati."
Orang yang memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa
tidak dapat dikatakan sebagai orang adil
Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti
mana yang benar dan mana yang salah.
Orang yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa,
bersikap adil dan tidak berat sebelah,
yang senantiasa menjaga kebenaran,
pantas disebut orang adil.
Jumat, 06 Agustus 2010
Rabu, 21 Juli 2010
Kisah Culasari
Suatu hari, Culasari berjalan pulang dari mengunjungi seorang pasien. Dalam perjalanan, ia berjumpa Sariputta Thera dan bercerita, bagaimana ia merawat seorang pasien serta mendapatkan makanan enak untuk pelayanannya. Ia juga meminta Sariputta Thera untuk menerima darinya sebagian dari makanan tersebut. Sariputta Thera tidak mengatakan apapun kepadanya melainkan terus melanjutkan perjalanannya. Sariputta Thera menolak menerima makanan dari bhikkhu itu karena bhikkhu tersebut telah melanggar peraturan yang melarang para bhikkhu membuka praktek pengobatan*.
Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Seorang bhikkhu yang tidak tahu malu itu buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia sombong seperti seekor gagak, ia menghidupi diri dengan cara yang melanggar peraturan dan hidup dalam kenikmatan. Di sisi lain, kehidupan bagi seorang bhikkhu yang memiliki malu tidaklah mudah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Sujīvaṃ ahirīkena
kākasūrena dhaṃsinā
pakkhandinā pagabbhena
saṃkiliṭṭhena jīvitaṃ.
Hirīmatā ca dujjīvaṃ
niccaṃ sucigavesinā
alīnen’appagabbhena
suddhājīvena passatā."
Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.
Hidup ini sukar bagi orang yang tidak tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan, rendah hati,
menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.
Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
----------------------------------
Notes:
*Dalam peraturan kebhikkhuan (Vinaya), para bhikkhu tidak diperbolehkan melakukan praktek pengobatan, yang dimaksud disini adalah melakukan praktek pengobatan dengan mengharapkan balasan seperti dokter/sinshe, misalnya dalam kasus diatas imbalan dana makanan.
Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Seorang bhikkhu yang tidak tahu malu itu buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia sombong seperti seekor gagak, ia menghidupi diri dengan cara yang melanggar peraturan dan hidup dalam kenikmatan. Di sisi lain, kehidupan bagi seorang bhikkhu yang memiliki malu tidaklah mudah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Sujīvaṃ ahirīkena
kākasūrena dhaṃsinā
pakkhandinā pagabbhena
saṃkiliṭṭhena jīvitaṃ.
Hirīmatā ca dujjīvaṃ
niccaṃ sucigavesinā
alīnen’appagabbhena
suddhājīvena passatā."
Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.
Hidup ini sukar bagi orang yang tidak tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan, rendah hati,
menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.
Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
----------------------------------
Notes:
*Dalam peraturan kebhikkhuan (Vinaya), para bhikkhu tidak diperbolehkan melakukan praktek pengobatan, yang dimaksud disini adalah melakukan praktek pengobatan dengan mengharapkan balasan seperti dokter/sinshe, misalnya dalam kasus diatas imbalan dana makanan.
Langganan:
Postingan (Atom)