Rabu, 12 Mei 2010

Kisah Upasaka Culakala

Culakala adalah seorang upasaka yang sangat mentaati peraturan uposatha pada hari-hari tertentu dan tinggal sepanjang malam di Vihara Jetavana, untuk mendengarkan uraian Dhamma. Keesokan pagi harinya, ketika ia mencuci muka di kolam dekat vihara, beberapa pencuri meninggalkan seberkas barang curian di dekatnya. Pemilik barang melihat Culakala berada dekat barang-barangnya yang dicuri. Mengira Culakala adalah pencurinya, ia memukulnya dengan keras. Untunglah beberapa pelayan wanita yang datang untuk mengambil air dan menyatakan bahwa mereka mengenalinya, bahwa ia bukanlah pencuri. Kemudian Culakala dilepaskan.

Ketika Sang Buddha mendengar hal tersebut, Beliau berkata kepada Culakala, "Kamu dilepaskan tidak hanya karena pelayan-pelayan wanita berkata bahwa kamu bukanlah pencuri, tetapi juga karena kamu tidak mencuri dan oleh sebab itu kamu tidak bersalah. Barang siapa yang berbuat jahat akan ke alam neraka (niraya), tetapi barang siapa yang berbuat baik akan terlahir kembali di alam sorga (dewa) atau merealisir kebebasan mutlak (nibbana)."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Attanā va kataṃ pāpaṃ attanā saṃkilissati
attanā akataṃ pāpaṃ attanā va visujjhati
suddhī asuddhī paccattaṃ nāñño aññaṃ visodhaye."

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seseorang pun yang dapat menyucikan orang lain.

Upasaka Culakala mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Minggu, 25 April 2010

Kisah Laludayi Thera

Laludayi adalah seorang bhikkhu yang lamban dalam berpikir dan pelamun. Walaupun telah berusaha keras, dia tidak pernah bisa mengatakan hal yang sesuai dengan situasi pada saat itu. Oleh karena itu, pada kesempatan yang gembira dan penuh harapan dia berbicara tentang kesedihan, dan pada kesempatan yang menyedihkan dia berbicara tentang kesenangan dan kebahagiaan. Selain itu, dia tidak pernah menyadari bahwa dia telah mengucapkan hal yang tidak tepat dalam situasi tertentu.

Ketika diberitahu tentang hal ini, Sang Buddha berkata, "Orang seperti Laludayi, yang memiliki sedikit pengertian sama halnya seperti seekor lembu jantan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Appassutāyaṃ puriso
balivaddo va jīrati
maṃsāni tassa vaḍḍhanti
pañña tassa na vaḍḍhati

Orang yang hanya belajar sedikit akan menjadi tua seperti seekor sapi;
dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak bertambah.