Rabu, 31 Maret 2010

Kisah Kukkutamitta

Di Rajagaha terdapat seorang putri orang kaya yang telah mencapai tingkat kesucian sotapatti pada usia yang masih muda. Suatu hari, Kukkutamitta, seorang pemburu datang ke kota dengan kereta untuk menjual daging rusa. Melihat Kukkutamitta, si pemburu itu, wanita kaya yang masih muda ini jatuh hati seketika.

Dia mengikuti Kukkutamitta, menikah dengannya dan berumah tangga di sebuah desa kecil. Dari hasil perkawinannya, lahirlah tujuh orang anak laki-laki, dan setelah tiba waktunya semua anak mereka menikah.

Suatu hari, Sang Buddha meninjau sekeliling alam kehidupan pada dini hari dengan kemampuan batin luar biasa-Nya. Beliau menemukan bahwa si pemburu, ketujuh putranya dan istri-istri mereka sudah memiliki kesiapan batin untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Paginya, Sang Buddha pergi ke tempat di mana pemburu telah menyusun perangkap buruannya di dalam hutan. Sang Buddha meletakkan jejak kaki Beliau di dekat perangkap, lalu duduk di bawah semak-semak yang rindang, tidak jauh dari perangkap tersebut.

Ketika pemburu datang, dia melihat tidak ada binatang di dalam perangkap. Sebaliknya, dia melihat jejak kaki dan menduga bahwa seseorang telah datang sebelumnya dan melepaskan binatang tersebut.

Ketika dia melihat Sang Buddha duduk di bawah semak-semak yang rindang, dia mengira Beliaulah orang yang telah melepaskan binatang dari dalam perangkap. Dengan marah pemburu itu mengeluarkan busur dan anak panahnya untuk memanah Sang Buddha.

Tetapi sewaktu dia menarik anak panahnya, dia menjadi tidak bisa bergerak dan tetap berdiam pada posisi seperti patung.

Anak-anak pemburu itu menyusul dan menemukan ayah mereka. Mereka juga melihat Sang Buddha pada jarak tertentu dan mengira Beliau pastilah musuh ayah mereka. Mereka semua mengambil busur-busur dan anak-anak panah, dan mereka membidik Sang Buddha. Tetapi mereka juga tidak bisa bergerak dan menjadi seperti patung.

Ketika pemburu dan putra-putranya tidak kembali, istri pemburu menyusul mereka ke dalam hutan bersama dengan ketujuh menantunya. Melihat suami dan semua anaknya dengan anak panah mereka membidik Sang Buddha, dia mengangkat kedua tangannya dan berteriak, "Jangan membunuh ayahku."

Ketika sang suami mendengar kata-kata istrinya, dia berpikir "Ini pastilah ayah mertua saya", dan anak-anaknya berpikir "Ini pastilah kakek kami", dan kemudian cinta kasih timbul pada mereka.

Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, "Singkirkan busur dan anak-anak panah kalian, dan beri penghormatan kepada ayah saya."

Sang Buddha menyadari bahwa pada waktu itu, pikiran pemburu dan ketujuh anaknya melembut dan membiarkan mereka menyingkirkan busur-busur dan anak-anak panah mereka. Setelah menyingkirkan busur-busur dan anak-anak panah mereka, mereka memberi penghormatan kepada Sang Buddha dan Sang Buddha menjelaskan ajaran Dhamma kepada mereka.

Akhirnya pemburu, ketujuh putranya, dan ketujuh menantunya, semua berjumlah lima belas, mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Sang Buddha pulang kembali ke vihara, dan memberi tahu kepada Ananda Thera dan bhikkhu-bhikkhu lain perihal Kukkutamita dan keluarganya yang telah mencapai tingkat sotapatti pada dini hari.

Para bhikkhu kemudian bertanya kepada Sang Buddha, "Bhante, apakah istri pemburu yang telah mencapai sotapanna, tidak bersalah melakukan pembunuhan; jika dia mengembalikan barang-barang seperti jaring, busur-busur, dan anak panah untuk keperluan suaminya pada saat hendak berburu?"

Terhadap pertanyaan itu, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, para sotapanna tidak membunuh, mereka tidak mengharapkan yang lain terbunuh. Istri pemburu itu hanya menuruti kemauan suaminya mengambilkan barang-barang untuknya. Seperti halnya tangan yang tidak luka, tangan itu tidak dapat dimasuki racun. Demikian pula, karena dia tidak mempunyai niat melakukan kejahatan, maka dia tidak melakukan kejahatan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Pāṇimhi ce vaṇo n’āssa
hareyya pāṇinā visaṃ
nābbaṇaṃ visam anveti
n’atthi pāpaṃ akubbato."

Apabila seseorang tidak mempunyai luka di tangan,
maka ia dapat menggenggam racun.
Racun tidak akan mencelakakan orang yang tidak luka.
Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat.

------------

Notes:
Seorang sotapanna telah mematahkan 3 belenggu (lihat notes di kisah 122),
Saddha/keyakinannya dalam Buddha Dhamma dan Sangha, sungguh-sungguh kuat, dan silanya juga kukuh, dalam situasi apapun juga ia tidak akan melanggar Pancasila.
Karena ia menjalankan Pancasila, ia tidak berbuat karma buruk baru yang dapat menyeretnya terlahir alam rendah.
Seandainya ada karma buruk yang dapat menyebabkan kelahiran di alam rendah, yang dilakukan sebelum ia menjadi sotapanna, ini akan menjadi ahosi kamma (karma yang tidak berbuah).

Dalam hal ini, karena sang isteri adalah seorang sotapanna, ia sudah tidak memiliki niat untuk membunuh.

Kisah Tiga Kelompok Orang

Kelompok pertama: Sekelompok bhikkhu dalam perjalanan untuk menghadap Sang Buddha dan mereka berhenti di sebuah desa. Beberapa orang memasak makanan untuk didanakan kepada para bhikkhu. Salah satu rumah terbakar dan lingkaran api berkobar di udara. Pada saat itu, seekor burung gagak sedang terbang dan terjebak dalam kobaran api, lalu jatuh mati di tengah-tengah desa. Para bhikkhu melihat burung gagak yang telah mati berpendapat bahwa hanya Sang Buddha-lah yang dapat menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan burung gagak sehingga ia mati dengan cara itu.

Setelah menerima dana makanan, mereka melanjutkan perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha, dan juga untuk bertanya mengenai burung gagak yang malang.

Kelompok kedua: Kelompok bhikkhu lain yang sedang mengadakan perjalanan dengan sebuah kapal, mereka juga dalam perjalanan untuk menghadap Sang Buddha. Ketika mereka sedang berada di tengah lautan, kapalnya tidak dapat bergerak. Lalu undian dilakukan untuk menemukan siapa yang membuat sial. Tiga kali undian menimpa istri kapten.

Kapten kapal berkata dengan sedih, "Banyak orang yang seharusnya tidak meninggal dunia karena wanita yang membuat sial ini; ikat sebuah pot penuh dengan pasir ke leher wanita ini dan lempar dia ke dalam laut sehingga saya tidak akan melihatnya lagi."

Wanita itu dilempar ke dalam laut sesuai perintah kapten dan kapal pun dapat bergerak kembali.

Setibanya di tempat tujuan mereka, para bhikkhu turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan mereka menemui Sang Buddha. Mereka berniat bertanya kepada Sang Buddha, perbuatan jahat apa yang menyebabkan wanita malang itu dilempar ke laut.

Kelompok ketiga: Sekelompok bhikkhu yang terdiri dari tujuh bhikkhu dalam perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Mereka bertanya di sebuah vihara di mana terdapat tempat yang layak untuk berteduh pada malam hari di sekitar sana. Kepada mereka ditunjukkan sebuah gua, dan di sana mereka bermalam.
Tetapi di tengah malam sebuah batu karang besar jatuh dari atas dan menutupi pintu masuk gua.

Pada pagi harinya, bhikkhu-bhikkhu dari vihara di dekat sana datang ke gua, dan melihat apa yang terjadi, mereka memanggil orang-orang dari tujuh desa sekitar. Dengan bantuan penduduk desa, mereka mencoba menggeser batu karang tersebut. Tetapi usaha itu tidak ada gunanya. Dengan demikian, ketujuh bhikkhu terjebak di dalam gua tanpa makanan dan minuman selama tujuh hari.

Pada hari ke tujuh, batu karang itu secara ajaib bergerak sendiri, dan para bhikkhu bisa keluar dari gua, serta melanjutkan perjalanan mereka menghadap Sang Buddha. Mereka juga berniat bertanya kepada Beliau, kejahatan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya sehingga mereka terkurung selama tujuh hari di dalam gua.

Ketiga kelompok yang melakukan perjalanan itu bertemu dalam perjalanan dan mereka bersama-sama menghadap Sang Buddha. Tiap kelompok menceritakan kepada Sang Buddha apa yang telah mereka lihat atau alami dalam perjalanannya.

Sang Buddha menjawab pertanyaan kelompok pertama: "Para bhikkhu, dahulu kala ada seorang petani yang mempunyai seekor lembu jantan. Lembu jantan tersebut sangat malas dan juga sangat keras kepala. Lembu tersebut tidak dapat dibujuk untuk melakukan pekerjaan apapun, dia hanya berbaring mengunyah jerami atau tidur. Petani tersebut tiap kali kehilangan kesabaran disebabkan kemalasan dan keras kepalanya hewan tersebut. Dengan marah dia mengikat tali jerami di sekeliling leher lembu dan membakarnya, lembu jantan itupun mati. Disebabkan oleh kejahatan ini, petani tersebut menderita lama sekali di alam neraka (Niraya) dan untuk memenuhi sisa akibat perbuatan jahatnya, dia mati terbakar dalam tujuh kehidupannya yang terakhir."

Sang Buddha menjawab pertanyaan kelompok kedua: "Para bhikkhu, saat itu terdapat seorang wanita yang mempunyai anjing peliharaan. Dia selalu membawa anjing tersebut bersamanya ke manapun dia pergi. Di kota itu terdapat pemuda-pemuda yang selalu menggoda wanita itu dan anjingnya, sehingga dia sangat marah, dan merasa malu. Akhirnya ia merencanakan untuk membunuh anjingnya. Dia mengisi sebuah pot dengan pasir, mengikatkan di leher anjingnya, melemparkannya ke dalam sungai, dan anjing itupun tenggelam. Akibat dari perbuatan jahat ini, wanita tersebut menderita dalam waktu lama di alam neraka (Niraya), dan untuk memenuhi sisa akibat perbuatan jahatnya, dia telah dilemparkan ke air supaya tenggelam dalam 100 kehidupannya yang terakhir".

Sang Buddha menjawab pada kelompok ketiga: "Para bhikkhu, suatu waktu, tujuh orang gembala melihat seekor iguana masuk ke dalam anak bukit, dan mereka menutup ketujuh jalan keluar dari anak bukit tersebut dengan ranting-ranting dan cabang-cabang pohon. Setelah menutup ketujuh jalan keluar, mereka pergi, dan melupakan iguana yang terperangkap di dalam anak bukit tersebut. Tujuh hari kemudian, mereka teringat apa yang telah mereka lakukan dan cepat-cepat kembali ke tempat perbuatan usil mereka dan mengeluarkan iguana tersebut. Akibat dari perbuatan jahat ini, ketujuh orang itu telah terkurung bersama selama tujuh hari tanpa makanan dan minuman dalam 14 kehidupan mereka yang terakhir."

Kemudian para bhikkhu berkata, "O memang benar! Tidak ada tempat pelarian dari akibat kejahatan bagi orang yang telah melakukan perbuatan jahat, walaupun dia berada di langit, atau di dalam samudra, ataupun di dalam gua".

Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Benar, bhikkhu! Kamu benar, walaupun di langit atau di mana saja, tidak ada tempat yang tidak terjangkau oleh akibat kejahatan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na antalikkhe na samuddamajjhe
na pabbatānaṃ vivaraṃ pavissa
na vijjatī so jagatippadeso
yatthaṭṭhito muñceyya pāpakammā."

Tidak di langit, di tengah samudra,
di celah-celah gunung atau di manapun juga,
dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang
untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya.

Semua bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

----------

Notes :

Tidak ada tempat kita dapat bersembunyi dari akibat perbuatan jahat.
Renungkanlah bait ini ketika kita mendapat musibah, kematian, dll yang sudah terjadi. Tetapi tidak untuk hal-hal yang belum terjadi.
Jangan salah mengerti menganggap bahwa hukum karma adalah fatalitas ataupun pesimis.
Jangan pernah berpikir, ya sudah, apa boleh buat, sudah karmaku, lalu tidak mau berusaha lagi. Ini namanya kurang usaha :)
Dalam landasan untuk mencapai kebuddhaan, usaha itu urutannya di nomer 1, nomer 2 nya barulah kepandaian/kecerdasan.
Jika masih belum terjadi, kita tetap harus berusaha sekeras mungkin, karena usaha itu sendiri adalah menciptakan karma baru. Karma artinya perbuatan. Apa yang kita lakukan di masa lalu (termasuk sedetik lalu, semenit lalu, sejam lalu, kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu dst..s/d kehidupan-kehidupan lalu) akan memberi hasil.
Ada sebagian karma yang berbuah langsung, ada yang menunggu saat dan kondisi yang tepat.
Karenanya kita harus berusaha sekuat mungkin dan jangan lupa memupuk banyak kebajikan, karena sesungguhnya masa depan ada di tangan kita sendiri.