Rabu, 14 Desember 2016

KISAH MONYET DAN BUAYA

Suatu ketika, seekor monyet berdiam di pinggir sungai. Dia sangat kuat dan peloncat yang hebat. Ditengah sungai ada sebuah pulau yang indah yang dipenuhi buah mangga, nangka dan banyak pohon buah-buahan yang lain. Di tengah tengah antara pulau dan pinggir sungai terdapat batu karang. Meskipun kelihatannya tak mungkin, si monyet biasanya melompat dari pinggir sungai ke batu karang kemudian dari batu karang ke pulau itu.

Dia bisa memakan buah sepanjang hari dan kemudian kembali ke rumah dengan rute yang sama setiap sore. Di dekat situ ada pasangan Pak Buaya dan Bu Buaya. Mereka sedang mengerami telur bayi buaya pertama mereka. Karena hamilnya, Bu Buaya kadang kadang menginginkan makanan yang aneh. Sehingga ia meminta hal hal yang aneh kepada suaminya yang setia. Bu Buaya sering terkagum-kagum, seperti hewan hewan lain, dengan cara si monyet melompat bolak-balik ke pulau itu. Suatu hari ia mengidam ingin makan jantung Monyet! Dia mengatakan keinginannya kepada Pak Buaya. Untuk memenuhi keinginannya, dia berjanji akan membawakan jantung monyet saat makan malam. Pak Buaya pergi dan bersandar di bawah batu karang diantara pinggir sungai dan pulau. Dia menunggu si monyet kembali sore itu untuk menangkapnya. Seperti biasanya, si Monyet menghabiskan waktunya di pulau itu. Saat akan kembali ke rumah dari pinggir sungai, dia menyadari bahwa batu karang itu kelihatan bertambah besar, kelihatan lebih tinggi dari air daripada yang pernah diingatnya. Sehingga ia curiga atas kelicikan Pak Buaya. Untuk meyakinkan hal ini, dia berteriak menghadap batu karang itu, “Halo yang disana, Tuan Karang! Apa kabar?” Dia meneriakkan kata-kata ini tiga kali. Kemudian lanjutnya, “Kamu biasanya menjawabku saat aku menanyaimu. Tetapi hari ini kau tidak mengatakan apapun. Ada apa dengan kamu, Tuan Karang?” Pak Buaya berpikir, “Tak salah lagi, pasti batu karang ini biasanya berbicara dengan monyet itu. Aku tak bisa menunggu karang bodoh ini untuk menjawab! Aku akan menjawabnya dan mengibuli monyet itu. Sehingga dia berteriak, “Aku baik-baik saja, Tuan Monyet. Apa yang kau inginkan?” si Monyet bertanya, “Siapa kamu?” Tanpa berpikir, buaya menjawab, “Aku Pak Buaya.” “Kenapa kamu bersandar disana?” tanya Tuan Monyet. Pak Buaya menjawab, “Aku akan mengambil jantungmu! Kamu tak akan bisa lari Tuan Monyet.” Monyet pintar ini berpikir,”Aha! Dia benar – tak ada jalan lain menuju pinggir sungai. Maka aku harus menipunya.” Kemudian dia berteriak dengan lantang, “Pak Buaya, sahabatku, kelihatannya kamu bisa mendapatkan aku. Aku akan memberikan jantungku. Bukalah mulutmu dan ambillah saat aku datang.”

Saat Pak Buaya membuka mulutnya, dia membukanya sebesar mungkin, sehingga matanya tertutup. Saat Tuan Monyet melihat ini, dia langsung melompat ke kepala buaya dan langsung ke pinggir sungai. Saat Pak Buaya menyadari bahwa dia telah tertipu, dia mengakui kemenangan Tuan Monyet. Seperti dalam pertandingan olahraga, dia mengakui kekalahannya. Dia berkata, “Tuan Monyet, tujuanku kepada kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh – aku ingin membunuh dan mengambil jantungmu hanya untuk menyenangkan hati istriku. Tetapi kamu hanya menyelamatkan diri dan tidak menyakiti siapapun. Selamat! Kemudian Pak Buaya kembali ke Bu Buaya. Awalnya Bu Buaya tak senang dengan hal ini, tetapi ketika telur bayi mereka menetas, mereka telah melupakan masalah itu.

Pesan moral :
Pecundang yang baik adalah lelaki sejati.

PANGERAN LIMA SENJATA DAN SI RAMBUT LENGKET

Suatu ketika, Sang Boddhisatva terlahir sebagai putra Raja dan Ratu Benares. Pada hari pemberian nama, 800 peramal diudang ke istana. Dan sebagai hadiah, mereka diberi apapun yang mereka inginkan untuk menyenangkan mereka. Dan mereka diminta untuk meramalkan nasib sang pangeran kecil, agar mereka dapat memberikan nama yang sesuai untuknya. Salah satu peramal ahli dalam membaca tanda tanda di badan. Ia berkata, “Tuanku, ini adalah berkah dari jasa-jasa anda. Dia akan menjadi raja penerus kerajaan ini.” Para peramal itu sangat pandai. Mereka mengatakan apapun yang ingin diketahui raja dan ratu. Mereka mengatakan, “Anakmu akan menjadi ahli 5 senjata. Dan akan menjadi orang terhebat dalam menguasai 5 senjata ini di seluruh India.” Berdasarkan hal ini, raja dan ratu memberi nama kepada anaknya ‘Pangeran Lima Senjata’ 

Saat pangeran berusia 16 tahun, raja memutuskan agar ia pergi belajar. Dia berkata, “Pergilah anakku, ke kota Takkasila. Disana kamu akan menemui guru yang paling terkenal. Pelajari apapun yang kamu bisa darinya. Dan berikan uang ini sebagai pembayarannya”. Dia memberikan seribu uang emas dan mengantarkan perjalanannya. Pangeran pergi ke guru terkenal di Takkasila ini. Dia belajar dengan rajin dan menjadi murid terbaik sang guru. Saat sang guru telah mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya, dia memberikan pangeran hadiah khusus untuk kelulusannya. Dia memberikan sang pangeran lima buah senjata dan mengembalikan sang pangeran ke Benares. 

Dalam perjalanan pulang, dia melewati hutan yang dihuni oleh raksasa. Para penduduk memperingatkan Pangeran Lima-Senjata, “Anak muda, jangan lewati hutan itu. Disana ada raksasa mengerikan yang bernama Rambut-Lengket. Dia membunuh semua yang dilihatnya!” Tetapi sang pangeran percaya diri dan tidak takut bagaikan seekor singa muda. Sehingga dia memasuki hutan, dan akhirnya menemui raksasa yang menakutkan itu. Raksasa itu setinggi pohon, dengan kepala sebesar atap rumah dan matanya sebesar piring makan. Dia memiliki dua taring kuning dan besar yang kelihatan keluar dari mulutnya yang menyeringai dengan giginya yang coklat jelek. Dia memiliki perut yang sangat besar dan bertotol-totol putih serta memiliki tangan dan kaki berwarna biru. Raksasa itu meraung dan menggeram kepada sang pangeran, “Kemana kau akan pergi, manusia kecil? Kamu kelihatannya enak sekali. Aku akan menelan kamu!” Pangeran baru menyelesaikan pelajarannya dan telah memenangkan penghargaan tertinggi dari gurunya. Sehingga ia merasa telah mengetahui segalanya, dan dapat melakukan segalanya. Dia menjawab, “Oh mahluk kejam, aku adalah Pangeran Lima-Senjata, dan aku sengaja datang ke sini untuk menemui kamu. Aku menantang kamu beradu kekuatan! Aku akan membunuh kamu hanya dengan dua senjata – busur dan panah beracunku.” Kemudian dia membidik panahnya ke raksasa itu. Tetapi panah itu lengket ke rambutnya, seperti lem, tanpa melukai raksasa itu sama sekali. Kemudian pangeran terus membidik raksasa sampai 50 panah beracunnya habis. Tetapi semuanya langsung lengket ke rambutnya, sehingga dinamai Rambut-Lengket. Kemudian mahluk itu mengguncangkan badannya, dari kepalanya yang jelek seukuran atap rumah sampai kakinya yang berwarna biru. Dan semua panah itu jatuh ke tanah. 

Pangeran Lima-Senjata memakai senjatanya yang ketiga, pedang sepanjang 33 inchi. Dia menusukkannya ke musuhnya. Tetapi pedang itu juga langsung lengket ke rambut yang lengket dan tebal itu. Kemudian dengan senjata keempatnya, dia menombak si raksasa, dan langsung melekat di rambut lengket. Setelah itu, ia menyerang dengan senjata terakhirnya yang kelima, dan langsung tongkatnya juga lengket ke rambut itu. Kemudian sang pangeran berteriak, “Hey kamu, raksasa, pernahkan kamu mendengar namaku, Pangeran Lima-Senjata? Aku memiliki lebih dari lima senjata. Aku memiliki kekuatan dari badanku yang muda. Akan kupatahkan badanmu berkeping-keping!” Dia memukul Rambut-Lengket dengan kepalan kanannya, seperti petinju. Tetapi tangannya lengket ke rambutnya, dan tak bisa melepaskannya. Kemudian dia memukul dengan tangan kirinya, tetapi ini juga melekat erat di rambut itu. Kemudian dia menendang dengan kaki kiki kemudian kaki kanan, seperti ahli ilmu bela-diri, tetapi keduanya juga lengket ke rambut yang berantakan itu. Kemudian dia menyerang raksasa itu dengan kepalanya sekeras mungkin seperti pegulat dan akhirnya kepalanya pun tak bisa lepas dari rambut raksasa itu.

Meskipun lengket di lima tempat, sang pangeran tetap tidak takut. Si Rambut-Lengket berpikir, “Sangat aneh, dia lebih mirip singa daripada manusia. Bahkan terjebak dengan raksasa ganas seperi aku, dia tidak takut. Selama ini, aku telah membunuh banyak orang dalam hutan ini, tak ada seorangpun seperti pangeran ini. Mengapa dia tidak takut sama sekali? Karena Pangeraa Lima-Senjata tidak seperti orang-orang lain, si Rambut-Lengket takut untuk langsung memakannya. Sehingga dia bertanya, “Anak muda, mengapa kamu tidak takut akan kematian?” Pangeran menjawab, “Mengapa aku harus takut mati? Tak ada yang meragukan setiap yang dilahirkan pasti mati!” 

Kemudian Sang Boddhisatva berpikir, “Lima senjata yang diberikan oleh guru yang paling terkenal di dunia ini telah tak berguna. Bahkan kekuatanku yang seperti singa tak berguna. Di luar guruku, badanku, aku harus mendapatkan senjata dari pikiranku, satu-satunya senjata yang aku perlukan.” Pangeran kemudian melanjutkan,”Ada hal kecil, hai raksasa, yang belum aku katakan kepadamu. Senjata rahasiaku ada di perutku, sebuah batu intan yang tak dapat kau cerna. Itu akan memotong ususmu sampai hancur jika kamu menelanku. Sehingga jika aku mati, maka kamu mati! Sehingga aku tak takut padamu.” Dengan cara ini, sang pangeran menggunakan kekuatan kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk meyakinkan si Rambut-Lengket. Dia sekarang mengerti bahwa senjata terbaik ada dalam pikirannya sendiri, yaitu batu intan yang berharga yang dinamakan kecerdasan. Rambut-Lengket berpikir, “Tak salah lagi, pasti orang pemberani ini menyatakan kebenaran. Bahkan jika aku makan potongan badannya sebesar kacang polong, aku tak akan bisa mencernanya. Aku akan membebaskannya.” Takut akan kematiannya sendiri, ia membebaskan Pangeran Lima-Senjata. Dia berkata, “Kau adalah orang yang hebat. Aku tak akan memakan dagingmu. Aku bebaskan kamu, seperti bulan yang muncul setelah gerhana, kau pun akan bersinar diantara sahabat dan keluargamu.”
Sang Boddhisatva telah mengalami pertempuran melawan raksasa Rambut-Lengket dan telah mengetahui bahwa senjata yang paling berharga adalah kecerdasan, bukan senjata yang ada di luar. Dan dengan senjata ini, dia juga mengetahui bahwa mencabut jiwa mahluk hidup hanya akan mengakibatkan penderitaan bagi si pembunuh. Dengan penuh terima kasih dia megatakan kepada raksasa yang tak beruntung itu, “Oh Rambut-Lengket, kamu terlahir sebagai mahluk pembunuh pemakan daging, karena perbuatan jahatmu yang lampau. Kamu hanya akan pergi dari kegelapan ke kegelapan yang lain. Sekarang kamu telah membebaskan aku, kamu tak akan bisa membunuh dengan gampang. Dengarlah, membunuh mahluk hidup akan membawa kesengsaraan dalam dunia, dan kemudian akan terlahir di neraka, atau sebagai hewan atau setan kelaparan. Bahkan jika kamu cukup beruntung untuk terlahir menjadi manusia, kamu akan memiliki umur pendek!” Pangeran Lima-Senjata kemudian terus mengajar Rambut-Lengket, sehingga raksasa itu setuju menjalankan lima aturan kemoralan. 

Dengan cara ini dia berubah dari raksasa menjadi peri penjaga hutan yang bersahabat. Dan ketika dia meninggalkan hutan, pangeran menceritakan tentang berubahnya raksasa itu kepada penduduk sekitar. Dan untuk selanjutnya mereka memberi makan kepadanya secara teratur dan hidup dengan damai. Pangeran Lima-Senjata kembali ke Benares. Kemudian dia menjadi raja. Akhirnya ia meninggal dan terlahir di alam yang sesuai.

Jumat, 24 Januari 2014

Kisah Mahakala Thera

Mahakala dan Culakala adalah dua saudagar bersaudara dari kota Setabya. Suatu ketika dalam perjalanan membawa barang-barang dagangannya mereka berkesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang diberikan oleh Sang Buddha. Setelah mendengarkan khotbah tersebut Mahakala memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai salah satu anggota pasamuan bhikkhu. Culakala juga ikut bergabung dalam anggota Sangha tetapi dengan tujuan berkenalan dengan para bhikkhu dan menjaga saudaranya.
Mahakala bersungguh-sungguh dalam latihan pertapaannya di kuburan (Sosanika Dhutanga), dan tekun bermeditasi dengan obyek kelapukan dan ketidak-kekalan. Akhirnya ia memperoleh “Pandangan Terang” dan mencapai tingkat kesucian arahat.
Di dalam perjalanan-Nya, Sang Buddha bersama murid-murid-Nya, termasuk Mahakala dan Culakala, singgah di hutan Simsapa, dekat Setabya. Ketika berdiam di sana, bekas istri-istri Culakala mengundang Sang Buddha beserta murid-murid Beliau ke rumah mereka untuk menerima dana makanan. Culakala sendiri terlebih dulu pulang untuk mempersiapkan tempat duduk bagi Sang Buddha dan murid-murid-Nya.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh bekas istri-istri Culakala untuk merayunya, agar ia mau kembali kepada mereka.
“Kakanda, alangkah kurusnya engkau sekarang. Tentu selama ini kakanda sangat menderita. Mari, adinda bersedia memijit kakanda untuk menghilangkan lelah, seperti dahulu kala. O, kakanda, marilah kita bergembira seperti dahulu lagi”.
Pada dasarnya Culakala memang tidak tekun dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sebagai bhikkhu. Mendengar berbagai rayuan dan rangsangan, batinnya tidak kuat. Nafsunya tergugah, tanpa pikir panjang lagi dilemparkannya jubahnya dan kembalilah ia kepada kehidupan duniawi, sebagai perumah tangga.
Melihat para istri Culakala berhasil mendapatkan suaminya kembali, para istri Mahakala pun tidak mau kalah. Pada hari berikutnya, bekas istri-istri Mahakala mengundang Sang Buddha bersama murid-murid-Nya ke rumah mereka, dengan harapan mereka dapat melakukan hal yang sama terhadap Mahakala.
Setelah berdana makanan, mereka meminta kepada Sang Buddha untuk membiarkan Mahakala tinggal sendirian untuk melakukan pelimpahan jasa (anumodana). Sang Buddha mengabulkan. Bersama murid-murid lain Beliau meninggalkan tempat tersebut.
Sewaktu tiba di pintu gerbang dusun, para bhikkhu mengungkapkan kekhawatiran dan keprihatinan mereka. Mereka merasa khawatir karena Mahakala telah diijinkan untuk tinggal sendiri. Mereka merasa takut kalau terjadi sesuatu, seperti Culakala saudaranya, sehingga Mahakala juga akan memutuskan untuk meninggalkan pasamuan bhikkhu, kembali hidup bersama bekas istri-istrinya.
Terhadap hal ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa kedua saudara itu tidak sama. Culakala masih menuruti kesenangan nafsu keinginan, malas, dan lemah; dia seperti pohon lapuk. Mahakala sebaliknya. Tekun, mantap, dan kuat dalam keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha; dia seperti gunung karang.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 7 dan 8 berikut ini:
Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat; maka Mara (Penggoda) akan menguasai dirinya, bagaikan angin menumbangkan pohon yang lapuk.
Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya terkendali, sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat, maka Mara (Penggoda) tidak dapat menguasai dirinya bagaikan angin yang tidak dapat menumbangkan gunung karang.
Saat itu bekas istri-istri Mahakala mengelilinginya dan berusaha merayu agar Mahakala melepaskan jubah kuningnya. Mahakala mengetahui upaya mereka, maka ia tetap berdiam diri saja. Tetapi, istri-istrinya berusaha lebih keras lagi. Melihat itu, Mahakala merasa tak ada gunanya lagi berdiam di situ. Ia berdiri, dengan kemampuan batin luar biasa ia melesat ke angkasa melewati atap rumah. Ia tiba tepat di bawah kaki Sang Buddha saat Beliau tengah mengakhiri pembabaran dua syair di atas.

Monyet Dan Angin

Seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa.
Dia nggak sadar sedang diintip oleh tiga angin besar.
Angin Topan, Tornado dan Bahorok.
Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yg bisa paling cepet jatuhin si monyet dr pohon kelapa.
Angin Topan bilang,
dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik, katanya.
Angin Bahorok senyum ngeledek dan bilang,15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.
Angin TOPAN duluan,
… dia tiup sekenceng2nya, Wuuusss…
Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa, Dia pegang sekuat2 nya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh2 si monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin TORNADO.
Wuuusss… Wuuusss…
Dia tiup sekencang2nya. Ngga jatuh juga tuh monyet.
Angin Tornado juga nyerah.
Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup.
Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya.
Nggak jatuh-jatuh.
Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin,
si monyet memang jagoan. Tangguh.
Daya tahannya luar biasa.
Ngga lama, datang angin SEPOI-SEPOI..
Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan îτϋ diketawain sama tiga angin lainnya. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.
Nggak banyak omong, angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss…
Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia trus lepas lah pegangannya
Alhasil, jatuh deh tuh si monyet.
PESAN MORAL :
Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN…
Dicoba dengan PENDERITAAN…
Didera MALAPETAKA… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya…
Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN… KESENANGAN… KELIMPAHAN…
Disinilah ” kejatuhan ” îτϋ terjadi.
Jangan sampai kita terlena…
Tetap ”Rendah hati”, “Mawas diri”, “Sederhana”, krn bukan kritikan yg membuat anda jatuh tapi sanjungan & pujian

Jumat, 23 Agustus 2013

MENGENAL HANTU DARI RRC (Chinese)

1. 牛头马面Niú Tóu Mǎ Miàn/Kepala lembu-wajah kuda/Ox-Head Horse-Face
Niu tou ma mian adalah hantu penjaga akhirat. Mereka memiliki kepala lembu dan wajah kuda, tetapi bertubuh pria. Seperti Heibai Wuchang, mereka bertugas mengawal roh-roh orang mati ke akhirat. Niutou mamian biasanya digambarkan sebagai roh yang dipersenjatai dengan garpu rumput dan membawa rantai logam untuk mengikat para roh.

2. 女鬼Nǚ Guǐ/ Hantu wanita/ Female ghosts
Nu gui adalah hantu wanita pendendam dengan rambut panjang di balut gaun putih. Dalam cerita rakyat Tiongkok, hantu ini digambarkan sebagai roh seorang wanita yang bunuh diri sambil mengenakan gaun merah. Biasanya, ia mengalami kasus ketidakadilan ketika masih hidup, seperti dilecehkan secara seksual atau dirampok. Nu gui pun kembali untuk membalaskan dendamnya pada orang-orang yang menyakitinya semasa hidup.
3. 恶鬼 É guǐ /Hantu Kelaparan/Hungry Ghosts
E gui mengacu pada hantu yang muncul selama Festival Hantu (Zhongyuanjie) berlangsung di Tiongkok. E gui diyakini sebagai roh dari orang-orang yang melakukan dosa karena keserakahan mereka ketika masih hidup, dan telah dikutuk untuk menderita kelaparan setelah kematian.
E gui memiliki mulut yang terlalu kecil untuk menelan makanan dan seluruh tubuhnya ditutupi dengan kulit berwarna hijau atau abu-abu, kadang-kadang dengan perut gendut. Hantu ini menderita rasa lapar yang tak akan pernah bisa terpuaskan. Dia menghantui jalanan dan dapur, mencari korban dan makanan yang telah membusuk. E gui yang lapar juga melahap segalanya, termasuk kotoran dan daging busuk. makanya kita juga sering dengar seseorang yang rakus makannya ia disebut “Hantu kelaparan”..


4. 僵尸 jiāngshī /Drakula China/Chinese Zombie
Pernah nonton Vampir China? Hantu ini biasanya digambarkan sebagai mayat hidup yang dapat bergerak dan menghisap darah manusia. Siapapun yang dihisap darahnya juga akan berubah menjadi vampir.

Dalam cerita atau legenda rakyat Tiongkok, vampir dikenal dengan sebutan jiangshi atau juga dieja chiang-shih. Jiangshi biasanya digambarkan sebagai mayat kaku yang mengenakan pakaian resmi dari Dinasti Qing dan bergerak dengan cara melompat dan merentangkan kedua tangan ke depan.

Jiangshi akan membunuh makhluk hidup untuk menyerap qi atau "energi kehidupan" yang dalam hal ini berupa darah. Hantu ini biasanya keluar pada malam hari, sedangkan pada siang hari dia akan berbaring di dalam peti mati atau bersembunyi di tempat gelap seperti gua.

Ji Xiaolan, seorang sarjana dari Dinasti Qing, pernah menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Yuewei Caotang Biji bahwa penyebab dari mayat hidup dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yakni orang yang baru saja meninggal lalu kembali hidup, atau mayat yang telah terkubur untuk waktu yang lama tetapi tidak membusuk.

5. 芭蕉鬼bā jiāo guǐ /Hantu Pisang/ Banana ghosts
Ba jiao gui secara harfiah diartikan sebagai hantu pisang. Hantu wanita yang tinggal di pohon pisang ini akan muncul sembari meratap pada malam hari, kadang-kadang sambil membawa bayi. Dalam beberapa cerita rakyat negara lain seperti dari Thailand, Malaysia dan Singapura, orang-orang senang meminta nomor undian dari hantu itu dengan harapan memenangkan undian.

Mereka akan mengikat benang merah mengelilingi batang pohon dan menempelkan jarum di dalamnya dan kemudian mengikat ujung tali ke tempat tidur mereka. Saat malam hari, Ba jiao gui akan muncul dan memohon kepada orang-orang itu untuk membebaskannya, dan sebagai imbalannya, ia akan memberikan nomor undian. Jika orang tersebut tidak memenuhi janjinya untuk membebaskan hantu tersebut setelah menang, dia akan bertemu dengan kematian yang mengerikan. Hantu ini sering disamakan dengan Kuntilanak, hantu dalam cerita rakyat Melayu.

6. 黑白无常 Hēi Bái Wúcháng/Membasmi yang jahat,menolong yang baik/Rewarding the good and punishing the bad
Dalam beberapa cerita, Heibai Wuchang konon sering muncul selama Festival Hantu berlangsung dan siapapun yang membuat pahala yang baik akan diberikan keping emas oleh mereka. Ada beberapa patung Heibai Wuchang yang ditaruh di beberapa kuil di Tiongkok, di mana mereka disembah, dan biasanya digambarkan dengan seringaian ganas di wajah mereka dan lidah merah yang panjang mencuat keluar dari mulut untuk menakut-nakuti roh-roh jahat.

7. 无头鬼wú tóu guǐ/ Hantu tanpa kepala/ Headless ghosts
Wutou gui adalah hantu tanpa kepala yang berkeliaran tanpa tujuan jelas. Mereka adalah roh-roh orang yang dibunuh dengan cara dipenggal. Itu bisa dikarenakan berbagai sebab, misalnya eksekusi, kecelakaan dan lain-lain. Dalam beberapa cerita rakyat Tiongkok, wutou gui konon akan mendekati seseorang di malam hari dan meminta kepala orang tersebut. Wutou gui juga kadang-kadang digambarkan sebagai roh pembawa kepala.

8. 冤鬼yuān guǐ (枉死wǎngsǐ)/Hantu yang mencari keadilan/ghost with grievance
Yuan gui berkeliaran di dunia orang hidup sebagai roh tertekan dan gelisah yang terus-menerus berusaha agar keluhan mereka ditebus. Dalam beberapa cerita, hantu ini akan mendekati seseorang yang hidup dan berusaha untuk berkomunikasi dengan orang tersebut dalam rangka untuk memberi petunjuk atau bukti yang bisa mengungkapkan kebenaran tentang kematian mereka. Orang hidup tersebut akan membantu yuan gui membersihkan nama mereka atau memastikan bahwa keadilan ditegakkan.

9. 游魂野鬼yóu hún yě guǐ/Hantu gentayangan/ Wandering souls and wild ghosts
You hun ye gui mengacu pada roh orang mati yang terus berkeliaran. Mereka berkeliaran di dunia orang hidup dalam Bulan Lunar Ketujuh (biasanya sekitar bulan Agustus dalam kalender Gregorian) selama Festival Hantu berlangsung. Roh-roh you hun ye gui meliputi: hantu pendendam yang ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah menyinggung mereka semasa hidup.
Beberapa roh ini tidak memiliki kerabat yang tinggal atau tidak memiliki tempat peristirahatan yang jelas, sementara yang lain mungkin kehilangan arah dan tidak dapat kembali ke akhirat sehingga mereka terus menjelajah dunia orang hidup setelah Bulan Lunar Ketujuh.

Kamis, 25 April 2013

Cai Sin Ya – Dewa Harta

Di antara sekian banyak dewa-dewa, seandainya diadakan pemungutan suara: “Dewa apakah yang paling disukai?” Barangkali 財神爺 Cai Shen Ye {Hok Kian = Cai Sin Ya} akan terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak. Walau bagaimanapun, realitas hidup di dunia ini, kebutuhan/tuntutan manusia akan uang/harta, selamanya tidak akan ada habis-habisnya. Sementara baik apakah Cai Shen bisa sungguh-sungguh memberikan kekayaan atau tidak, maupun keberadaan Dewa Harta (Dewa Kekayaan) itu sendiri, sedikit banyak dapat memuaskan fantasi orang banyak terhadap kekayaan.
Dewa Harta yang dipercaya di kalangan rakyat jelata sangat banyak macamnya, ada 文武財神 Wen Wu Cai Shen {Bun Bu Cai Sin} – Dewa Harta Sipil & Militer, 五路財神 Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Harta dari Lima Jalan, 增福財神 Zheng Fu Cai Shen {Tiam Hok Cai Sin} – Dewa Kekayaan Penambah Rezeki, dan lain-lain. 土地公 Tu Di Gong {Tho Tek Kong} – Dewa Bumi adalah Cai Shen yang paling dikenal oleh semua orang.
Cai Sin Ya memiliki wilayah penghormatan yang luas. Sembahyang kepada Cai Shen, selain terdapat di kelenteng-kelenteng, juga terdapat di rumah-rumah penduduk.
Wu Cai Shen (Dewa Kekayaan Militer) adalah 玄壇元帥趙公明 Xuan Tan Yuan Shuai Zhao Gong Ming {Hian Tan Gwan Swe Tio Kong Beng} dan 關公 Guan Gong {Kwan Kong}.
Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling terkenal adalah Riwayat 趙公明 Zhao Gong Ming {Tio Kong Beng} yang tertulis dalam 封神榜 Feng Shen Bang (Daftar Penganugerahan Dewa-Dewa). Dalam Feng Shen Bang ini diceritakan sebagai berikut:
Kaisar Zhou Wang {Tiu Ong} dari Kerajaan Shang memerintahkan Wen Zhong {Bun Tiong} jendralnya yang terkenal, untuk menyerbu Xi Chi, basis pertahanan pasukan Wen Wang {Bun Ong}. Untuk mencapai tujuannya tersebut, Wen Zhong minta bantuan 6 orang sakti untuk membentuk formasi barisan yang disebut Shi Jue Zhen {Si Ciap Tin} – Sepuluh Barisan Pemusnah. Tapi 姜子牙 Jiang Zi Ya berhasil menghancurkan 6 di antaranya. Melihat kekalahan di pihaknya, Wen Zhong meminta bantuan Zhao Gong Ming yang pada waktu itu sedang bertapa di gua Lou Fu Dong, pegunungan E Mei Shan {Go Bi San}.
Zhao Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor harimau besar menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan 2 jari tangannya. Kemudian ia mengendarai harimau yang telah diikat lehernya dengan angkin (sejenis kain). Pada dahi si raja hutan tersebut ditempelkan selembar Hu (Surat Jimat). Selanjutnya harimau itu menjadi tunggangannya & tunduk pada perintahnya.
Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa jurus, Zhao Gong Ming mengeluarkan ruyung saktinya & menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh & tewas. Tapi, datanglah Guang Cheng Zi {Kong Sheng Cu} yang lalu menolong Zi Ya sehingga ia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren {Wi Liong Cin Jin} keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi ia tertawan oleh tali wasiat Zhao Gong Ming. Chi Jing Zi & Guang Cheng Zi juga terpukul jatuh oleh pertapa dengan banyak kesaktian tersebut.
Kemudian Jiang Zi Ya mendapat bantuan dari Xiao Sheng, seorang sakti dari pegunungan Wu Yi Shan. Semua wasiat dari Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Karena merasa malu Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau 3 Dewa) untuk menemui Yun Xiao Niang Niang, seorang petapa wanita yang sakti. Zhao Gong Ming meminjam sebuah gunting wasiat kepada Yun Xiao Niang Niang untuk merebut kembali wasiat-wasiatnya yang dirampas musuh.
Ternyata gunting wasiat itu adalah 2 ekor naga yang berubah wujud, dengan kemampuan yang luar biasa. Banyak dewa-dewa sakti dari pihak Jiang Zi Ya terpotong menjadi 2 bagian & tewas karena pusaka ini. Jiang Zi Ya menjadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar. Pada saat yang kritis ini datanglah seorang Taoist dari pegunungan Gun Lun Shan {Kun Lun San} yang bernama Lu Ya. Lu Ya menyuruh Jiang Zi Ya membuat boneka dari rumput. Pada tubuh boneka rumput tersebut diletakkan selembar kertas yang dituliskan nama Zhao Gong Ming. Pada bagian kepala & kaki dipasang masing-masing sebuah pelita kecil. Di depan boneka Zhao Gong Ming tersebut diadakan sembahyangan selama 21 hari berturut-turut. Jiang Zi Ya atas nasehat Lu Ya bersembahyang di situ beberapa hari. Ia terus bersembahyang sampai suatu hari Zhao Gong Ming merasakan jantungnya berdebar-debar, badannya terasa panas dingin tak menentu. Semangat & tenaganya lenyap. Pada hari ke-21, setelah mencuci rambutnya, Jiang Zi Ya mementang busur & mengarahkan anak panah ke mata kiri boneka rumput tersebut. Zhao Gong Ming yang berada di kubu pasukan Shang, mendadak merasa mata kirinya sakit sekali & kemudian menjadi buta. Panah Jiang Zi Ya berikutnya diarahkan ke mata kanan boneka Zhao Gong Ming & panah ketiga diarahkan ke jantungnya. Akhirnya Zhao Gong Ming yang sakti ini tewas terpanah oleh Jiang Zi Ya.
Setelah Wen Wang berhasil menghancurkan pasukan Shang & mendirikan dinasti Zhou, Jiang Zi Ya melaksanakan perintah gurunya untuk mengadakan pelantikan para malaikat. Zhao Gong Ming dianugerahi gelar Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun yang secara singkat disebut 正一玄壇真君 Zheng Yi Xuan Tan Zhen Jun {Ceng It Hian Than Cin Kun}.  Xuan Tan Zhen Jun mempunyai 4 pengiring yang disebut 財神使者 Cai Shen Shi Zi, Duta Dewa Kekayaan, yaitu :
  1. 招寳天尊蕭升Zhao Bao Tian Zun Xiao Sheng (Malaikat Pemanggil Mestika)
  2. 納珍天尊震寳Na Zhen Tian Zun Zen Bao (Malaikat Pemungut Benda Berharga)
  3. 招財使者陳九公Zhao Chai Shi Zhe Chen Jiu Gong (Duta Pemanggil Kekayaan)
  4. 利市仙官姚少司Li Shi Xian Guan Yao Shao Si (Pejabat Dewa Keuntungan)
Xuan Tan Zhen Jun bersama 4 pengiringnya ini sering ditampilkan secara bersama-sama dalam bentuk gambar & disebut Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Kekayaan dari Lima Jalan.
Dewa Kekayaan ini sering ditampilkan sebagai seorang panglima perang berwajah bengis dengan pakaian perang lengkap, 1 tangan menggenggam ruyung & tangan yang lain membawa sebongkah emas, mengendarai seekor harimau hitam. Ini merupakan gambaran berdasarkan buku Feng Shen Bang tersebut.

Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita

Ada umat yang bertanya: “Kwan Im Pho Sat sebetulnya pria atau wanita ???” Ada yang menjawab Kwan Im Pho Sat sebenarnya pria. Namun banyak juga yang menjawab Kwan Im Pho Sat adalah wanita.
Sebenarnya tingkat kesucian Bodhisatva telah berada di atas perbedaan bentuk : pria – wanita, tua – muda, cantik – jelek, kaya – miskin, mulia – hina, dan sebagainya. Dengan kata lain tingkat kesucian Bodhisatva telah menghilangkan perbedaan wujud pria atau wanita. Bodhisatva bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi / keadaan. Seorang Bodhisatva bisa berubah wujud menjadi sesuatu yang sesuai dengan sebab jodoh orang yang memohon pertolongan kepadanya.
Maka Kwan Im Pho Sat bisa berwujud pria, bisa juga berwujud wanita. Semua ini berdasarkan kebutuhan umat manusia yang membutuhkan pertolongannya.
Jauh sebelum agama Buddha disebarkan dari India ke Tiongkok, di Tiongkok Kuno sudah ada kepercayaan kepada seorang Dewi yang welas asih dengan penampilan memakai jubah putih. Pada waktu memasuki Tiongkok pada masa Dinasti Han [ 206 SM – 220 M ), agama Buddha memperkenalkan Bodhisatva Avalokitesvara – 觀自在菩薩 Guan Zi Zai Pu Sa (kemudian dikenal sebagai Kwan Im Pho Sat) sebagai pria.
Mulai zaman Dinasti Tang [ 618 – 907 M ], Kwan Im ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang telah berurat akar dalam sistem sosial masyarakat pada saat itu. Mereka menganggap tidak layak kalau wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para umatnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar beliau dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon bantuannya.
Nampaknya perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan. Mula-mula Kwan Im ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa-dewa dari India yang selalu berpasangan). Lambat laun oleh para penganutnya di Tiongkok, Dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Pada abad ke-12 Masehi, Kwan Im telah dipuja tersendiri sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu pula Dewata-dewata Buddhis lainnya.
Sebelum masuknya Buddhis ke Tiongkok, kaum wanita di sana telah banyak menghormati para Dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan 娘娘 Niang Niang {Hok Kian = Nio Nio }, sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan & keturunan. Oleh karena itu ketika muncul Guan Yin, mereka menyebutnya dengan panggilan Niang Niang pula. Sebutan 觀音菩薩 Guan Yin Pu Sa {Hok Kian = Kwan Im Pho Sat} yang sepenuhnya bersifat Buddhisme, di kalangan rakyat Tiongkok akhirnya terkenal dengan sebutan 觀音娘娘 Guan Yin Niang Niang {Kwan Im Nio Nio}.
Tidak hanya sampai di situ, kaum Taois-pun akhirnya ikut pula menghormati, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu 天后聖母 Tian Hou Sheng Mu (Tian Shang Sheng Mu). Nama Taois untuk Guan Yin adalah 慈航道人 Ci Hang Dao Ren {Cu Hang To Jin} yang berarti Dewa Penyelamat Pelayaran.
Demikianlah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi – Sakyamuni Buddha, walaupun dalam banyak kelenteng & wihara, Buddha Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.
E.T.C. Werner dalam bukunya Myths and Legends of China menyebut Dewi Kwan Im sebagai Buddhist Saviour atau Dewi Penyelamat dari Buddhis. Kutipan dari buku tersebut tentang kepercayaan rakyat kepada Dewi Kwan Im adalah sebagai berikut:
Ia disebut Guan Yin karena ia mau mendengarkan ratapan dari dunia & turun memberikan pertolongan. Ia memperoleh sebutan Buddha yang mengusir rasa takut. Jika nama Guan Yin disebut di tengah kobaran api, maka api tak akan dapat membakar. Jika namanya disebut di tengah hempasan ombak yang setinggi gunung, maka air tersebut akan menjadi dangkal. Apabila seorang awak perahu yang tengah dihantam gelombang besar menyebut nama Guan Yin yang Maha Penyayang, maka ia akan selamat sampai tujuan. Di tengah-tengah gemerincingan pedang & tombak di medan perang, apabila menyebut nama Guan Yin akan luputlah ia dari maut. Jika ada iblis yang merasuki ke dalam dirimu, sebutlah nama Guan Yin, maka anda akan memperoleh kedamaian & ketenangan bathin.
Napsu amarah & kebencian akan sirna kalau nama beliau diucapkan. Seorang yang menderita penyakit ingatan akan pulih kembali kalau berdoa dengan penuh ketulusan kepada Guan Yin. Guan Yin yang Maha Pengasih & Penyayang akan memberikan anak bagi para ibu yang mendambakannya, seorang putra yang tampan & seorang putri yang cantik. Seorang yang menyebutkan nama-nama dari 6.200.000 Buddha atau jumlah yang banyak laksana pasir Sungai Gangga, sama nilainya dengan orang lain yang hanya mengucapkan nama Guan Yin sekali saja. Guan Yin dapat muncul dalam wujud Buddha, Pangeran, Bikkhu, Pelajar, Nenek tua, dan lain-lain. Beliau dapat pergi ke negara mana saja, membabarkan ajaran suci ke berbagai penjuru dunia.
Demikianlah seorang Dewi Welas Asih yang Asli Tiongkok menyatu dengan Avalokitesvara, jadilah Dewata Buddhis khas Tiongkok, bahkan ciri-ciri ke-India-annya hilang sama sekali. Kisah Putri Miao Shan (Biao Sian) dalam kisah Lam Hai Kwan Im Cwan Thwan amat dikenal dalam Buddhisme Tiongkok, dan telah menyatu dalam sanubari orang-orang Tionghoa. Kisah Putri Miao Shan yang amat berbakti kepada orangtua ini merupakan cerminan dari kisah Sang Buddha Gautama, di mana beliau meninggalkan keduniawian menjadi pertapa dan sempurna di Gunung Pu To Shan.
Figure Kwan Im yang dekat dengan segala lapisan masyarakat membuatnya amat termashur bahkan melebihi Sang Buddha Gautama sendiri. Dalam perujudannya sebagai Chien Chiu Kwan Im (Kwan Im Tangan Seribu) beliau secara Esotoris seolah-olah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.
Kwan Im Hut Co dikenal luas sebagai Dewi Welas Asih, yang dipuja tidak hanya di kalangan Buddhis saja, tapi juga di kalangan umat Taoisme dan semua lapisan masyarakat awam di pelbagai negara terutama di benua Asia.
Coba kita perhatikan, di setiap kelenteng atau wihara, siapapun yang menjadi Tuan Rumah–nya, misalnya玄壇公 Xian Tan Gong {Hian Than Kong}; 地藏王 Di Zang Wang {Te Cong Ong}; 媽祖 / 天后聖母 Ma Zhu / Tian Hou Sheng Mu {Ma Co / Thien Hou Sing Bo}; 關聖帝君 / 關公 Guan Sheng Di Jun / Guan Gong {Kwan Seng Te Kun / Kwan Kong}; 清元真君 Qing Yuan Zhen Jun {Ceng Guan Ceng Kun}; dan lain-lain, pasti di dalam kelenteng tersebut ada sebuah altar khusus untuk menghormati Kwan Im Hut Co ! Mengapa bisa demikian ? Ini karena Maha Cinta Kasih & Maha Karuna (大慈大悲) beliau. Maka beliau disebut Guan Shi Yin. Bahkan Dunia Barat pun mengenal Dewi Kwan Im sebagai Goddess of Mercy !!!

Kamis, 21 Maret 2013

Muka Si Tukang Daging


Ch’ien Meihsi mencatat cerita tentang Hsueh Ch’ingkuan, seorang tukang jagal kambing. Dia menjalankan toko kecilnya sendiri yang menjual kambing dan sup kambing. Kelezatan sup kambingnya yang terkenal menyebar luas membawa banyak pelanggan. Beberapa orang bahkan melakukan perjalanan berhari-hari untuk memakan supnya, dan mereka semua pulang dengan puas.
Dengan usaha seperti itu, Hsueh menjadi kaya dalam waktu singkat.
Beberapa temannya yang beragama Buddha memberitahu kepadanya untuk tidak membunuh lebih banyak kambing. “Kau telah menghasilkan cukup uang. Jangan serakah. Kita bukan binatang buas di hutan. Membunuh hewan adalah kejahatan serius terhadap alam. Kau tidak dapat lolos darinya. Cepat atau lambat perbuatan burukmu akan dibalas, dan saat itu tidak peduli berapa banyak pun uang yang kau miliki, tidak akan berguna.”
“Hsueh, mengapa kau tidak menggunakan uangmu untuk diinvestasikan ke jenis usaha yang lain? Kau tetap dapat menghasilkan banyak uang, dan pada saat yang sama kau dapat bertobat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk memperbaiki segala kejahatanmu. Kalau tidak, kau akan berada dalam kesulitan, bahkan anak cucumu akan terkena akibatnya.”
Tidak ada orang yang suka mendengar nasihat baik. Hsueh hanya mendengus dan bersikap meremehkan, “Saya terlalu pintar untuk percaya pada dongeng nenek-nenek. Jangan berpikir kau bisa menakut-nakutiku dengan dongeng-dongeng ini! Kejahatan terhadap alam! Tidak masuk diakal!”
Ketika Hsueh berumur empat puluh tahunan, dia terkena penyakit aneh. Mulutnya mulai menggelayut ke depan, dan dagunya memanjang. Pandangan matanya bodoh. Sungguh, dia kelihatan seperti seekor kambing!
Tidak lama kemudian semua orang di sekitar rumahnya mengetahui kalau Hsueh Ch’ingkuan kelihatan seperti seekor kambing. Mereka semua datang untuk melihatnya sendiri. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepadanya, tapi setiap hari, orang-orang datang untuk melihat Hsueh. Kemudian mereka akan berpaling pada teman-teman mereka dan saling berbisik-bisik dan menganggukkna kepala. Hsueh sebentar saja sudah capek diperlakukan demikian! Tidak ada dokter yang bisa menolongnya, tetapi mereka semua setuju, dia kelihatan seperti kambing!
Hsueh amat frustasi sampai-sampai dia berpikir dia akan menjadi gila, tapi dia terlalu angkuh untuk mengakui kalau dia mungkin telah bersalah. Dia menolak untuk mengakui bahwa mungkin dia seharusnya tidak membunuh begitu banyak kambing.
Akhirnya, dalam sebuah perjalanan bisnis ke Anhui, dia jatuh ke sungai dan tenggelam. Tidak ada yang menemukan mayatnya.
Hal yang menyedihkan adalah mestinya Hsueh tidak usah menderita malu dan mati mendadak. Jika dia tidak sedemikian serakahnya dan lebih bersedia untuk mempertimbangkan kata hatinya, dia dapat hidup lama dan bahagia.
Tetapi uang, kebodohan, dan kekeraskepalaan lebih berharga untuknya daripada kebahagiaan, kesehatan, dan kebijaksanaan.

Cerita Angsa dan Kura-Kura

Ada sepasang Kura-Kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sana. Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa. Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasang binatang itu sudah lama bersahabat. 
Musim kemarau telah tiba, di telaga telah mulai mengering. Kedua angsa akan berpamitan dengan sahabatnya karena angsa tidak bisa hidup tanpa air, maka kami akan meninggalkan telaga Kumdawati ini menuju telaga Manasasaro di pegnungan Himalaya. Kura-kura tidak bisa melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu.
Akhirnya kura-kura memutuskan untuk ikut bersama dengan angsa. Angsa kemudian mau mengajak kura-kura pergi bersama dengan dirinya yaitu dengan cara kura-kura menggigit tengah-tengah kayu dan angsa yang akan memegang ujung-jungnya. Tetapi dengan persyaratan jangan lengah, janganlah sekali-kali berbicara dan jangan melihat di bawah atau jika ada orang yang bertanya jangan sekali menjawab. Kura-kura lalu berpegangan di tengah-tengah kayu dengan mulutnya, sedangkan kedua ujung-ujungnya dipegang oleh angsa.
Setelah tepat berada di tanah lapang Wila Jenggala ada sepasang anjing srigala yang berlindung di bawah pohon mangga yang jantan bernama Si Nohan dan yang betina Si Bayan. Srigala betina melihat ke atas dilihatnya angsa terbang membawa sepasang kura-kura lalu Srigala berkata pada suaminya, ayah cobalah lihat ke atas betapa aneh angsa terbang membawa sepasang kura-kura. Srigala jantan menjawab itu bukan kura-kura namun itu adalah kotoran sapi. Demikian omongan tersebut didengar oleh kura-kura, mendengar kura-kura dibilang kotoran sapi oleh Srigala, kura-kura lalu marah dan melepaskan gigitannya pada kayu dan akhirnya kura-kura itu jatuh dan dimakan oleh srigala. Angsa tinggal dengan perasaan kecewa dan menyayangkan kenapa kura-kura tidak mau mendengarkan nasehatnya.

Senin, 28 Januari 2013

Kisah Seekor Kelinci Yang Suka Beramal

Cerita ini menggambarkan sampai dimana keikhlasan seekor binatang dengan amalnya.

Dahulu kala Sang Bodhisattva dilahirkan kembali sebagai seekor kelinci. Tempat tinggalnya di dalam rimba raya yang penuh dengan pohon-pohon yang rindang dan daun-daunnya yang berwarna hijau sepanjang masa. Rumahnya di dalam lubang kecil di tepi sungai. Karena tabiatnya yang halus dan peramah, maka semua penghuni hutan itu menjadi sahabatnya. Oleh karenanya ia merasa sangat bahagia. Tambahan lagi ia mempunyai tiga sahabat yang sangat akrab, yaitu seekor anjing air, seekor serigala dan seekor kera. Mereka merupakan empat serangkai yang tidak terpisahkan dan selalu bersama-sama. Seperti kata pepatah “ringan sama dijinjing berat sama dipikul”.
 
Tidak ada satupun di antara kawan-kawannya yang mengira, bahwa kelinci itu bukanlah kelinci yang biasa. Mengapa demikian? Ya, karena kelinci itu demikian sederhananya, dan tingkah lakunya pun tidak berbeda dengan binatang-binatang lain.

Tetapi kita tahu, bahwa kelinci itu adalah penjelmaan dari Buddha yang akan datang. Sebab itu ia memiliki sifat-sifat yang luhur. Dan keluhuran budinya itu ditunjukkannya dengan sederhana sekali. Tetapi yang terpenting baginya ialah menjalankan kebajikan beramal. Pada tiap-tiap kesempatan ia selalu menganjurkan supaya kawan-kawannya berbuat amal.
 
Karena sangat rajin selalu menganjurkan berbuat amal, maka kelinci itu sangat menarik perhatian binatang-binatang lain. Hali ini sampai pula terdengar di khayangan, tempat tinggal para para dewa, terutama dewa Cakra, yang memerintah semua dewa-dewa sangat tertarik kepada kelinci itu. Timbullah pertanyaan pada diri Sang Cakra, apakah kelinci itu yakin benar akan apa yang dianjur-anjurkannya tentang kebajikan beramal. Maka tidaklah tertahan lagi keinginannya untuk mengetahui hal itu, lalu dicarinya akal untuk mencoba keyakinan sang kelinci.
 
Dengan maksud itu ia turun dari khayangan dan menjelma menjadi seorang pendeta yang sudah tua usianya. Badannya dibuatnya berkerut dan sengsara seperti orang tua yang banyak menderita, miskin dan lapar.
 
Demikian pendeta itu sampai di hutan tempat tinggal kelinci. Tidak jauh dari rumah kelinci, ia merendahkan diri dan merintih-rintih minta tolong.

Seperti telah diterangkan di atas, kelinci itu selalu bersama kawan-kawannya. Demikian juga sekarang. Ketika mereka mendengar suara orang merintih minta tolong, berlari-larilah keempat binatang itu menuju tempat datangnya suara. Dan apakah yang mereka lihat? Seorang pendeta yang sudah tua, badannya kurus kering dan kepayahan.
 
Ibalah hati keempat binatang itu melihat kesengsaraan orang tua, apalagi seorang pendeta yang suci. Bertambahlah terharu mereka melihat sang pendeta hampir meninggal karena sangat lapar dan dahaga.
 
“Tunggulah,” kata mereka, “Kami akan mencarikan makanan dan minuman.” Ya, memang demikianlah, mereka harus mencari dahulu jika hendak makan dan minum. Anak-anak tentu mengerti juga, bahwa binatang-binatang hutan itu tidak mempunyai apa-apa di rumahnya. Mereka harus mencari makanan di mana-mana. Dan di mana saja terdapat makanan, di situlah mereka makan sampai kenyang.
 
Demikianlah, maka tidak lama kemudian si anjing air kembali dengan membawa tujuh ekor ikan. Ikan-ikan itu diberikannya semua kepada sang pendeta. Kemudian datanglah serigala membawa seekor kadal dan sedikit susu asam. Si kera datang pula dengan membawa beberapa buah mangga yang lezat-lezat. Dan akhirnya datanglah kelinci……
 
Anak-anak tentu mengira kelinci itu membawa makanan yang enak-enak pula, bukan? Sebab tidaklah dia yang selalu menganjur-anjurkan supaya orang menjalankan amal! Tetapi, apa yang terjadi? Kelinci tidak membawa apa-apa. Satu butir makanan pun tidak ada padanya. Memang hari itu hari sial baginya. Dengan tangan hampa ia berdiri di hadapan orang tua itu. Ia sangat malu, lebih-lebih terhadap kawan-kawannya.
 
Dalam hati ia berkata, “Ah, benar-benar binatang tidak berguna aku ini! Aku yang seringkali berbicara tentang kebajikan beramal, tetapi kenyataannya aku tidak mampu memberikan apa-apa kepada orang suci ini. Orang tua yang sangat memerlukan pertolongan dengan segera? Satu-satunya yang dapat kuamalkan kepadanya hanyalah badanku sendiri. Dan ini harus kulakukan!”

Karena pendeta itu sebenarnya adalah dewa Cakra, maka ia dapat mengetahui pikiran orang lain. Oleh karena itu mengertilah ia akan maksud kelinci itu. Tetapi sebagai pendeta ia dilarang membunuh makhluk. Sekarang yang perlu diketahui ialah, apakah kelinci itu benar-benar menyerahkan badannya sebagai makanan? Dikumpulkannya beberapa batang kayu dan dibakarnya. Kemudian dengan diam ia memandang kepada kelinci.

Dengan tidak berpikir panjang lagi kelinci itu meloncat ke dalam api yang menyala-nyala. Dan matilah ia dengan ikhlas dan bahagia, dengan keyakinan, bahwa perkataan-perkataannya tentang amal telah dibuktikannya dengan perbuatan.

Dan untuk memperingati perbuatan kelinci yang penuh keikhlasan dalam menjalankan amalnya, maka dewa Cakra menganugerahi kepadanya keputusan untuk menghias menara istana-istana para dewa. Dan anak-anak pun bisa melihatnya di bulan purnama.

Sabtu, 13 Oktober 2012

KERA TUNG PEI, SANG PANGLIMA KERA

 KERA TUNG PEI, SANG PANGLIMA KERA



Legenda Panglima kera TongBei
Pada jaman Musim Semi & Musim Gugur, hiduplah seekor kera ajaib bernama Yuan Gong (Yuan Hong). Mengapa disebut ajaib? Maklum kera ini bukan hanya bisa berpikir & berbicara seperti manusia namun jg sangat menyukai ilmu beladiri.

Sudah banyak pendekar tangguh yg ditantang & dikalahkannya, hingga suatu hari dy mendengar ttg seorang gadis jago pedang dari negri Yue yg konon tak terkalahkan, Yuan Gong pun jadi penasaran & segera pergi kenegri Yue untuk menantangnya.

Tak disangka sigadis ternyata dapat mengalahkannya dg sangat mudah, hingga sikera menyadari ilmunya masih cetek & mengangkat sigadis sbg gurunya.

Tak lama kemudian pecah perang antara negri Yue & negri Wu (negrinya Sun Tzu) dan sigadis jago pedang ditunjuk sebagai pelatih pasukan negri Yue.
Selama peperangan, YuanGong mengikuti gurunya maju kemedan perang memababati musuh2nya, sehingga orang2 menjulukinya sebagai "panglima kera TongBei" (TongBei berarti lengan panjang, sesuai dg ukuran lengan Yuan Gong yg memang panajang)
Setelah peperangan usai & negri Yue menang, perdana mentri Yue hendak memberi penghargaan pada sigadis & keranya itu, siapa tahu keduanya telah raib entah kemana....

Menurut desas desus, sang gadis adl jelmaan dewi Jiu Tian Xuan Nu (alias dewi Athena nya bangsa China) yg sengaja turun kedunia untuk menolong negri Yue. Adapun sikera kemudian disembah dg sebutan panglima kera TongBei & dibuatkan patungnya

Lalu bagaimana nasib TongBei YuanHou sebenarnya? Rupanya sikera ini mengikuti gurunya kelangit & disana dy diajari bermacam2 ilmu kesaktian seperti memindahkan matahari & bulan serta menyusutkan gunung ....

TongBei dalam novel Jouney To The West yg asli
Kera Tung pei memang tidak pernah benar2 muncul dalam novel Journey to the West, namun namanya sampat disebut sekilas dalam ahir cerita kera berterlinga 6..
Disitu Budha RuLai menerangkan bahwa didunia ini ada 4 jenis kera ajaib, yaitu
1. Kera batu (Sun GoKong)
2. Kera bertelinga enam (Liu er mi/kera Lok Yi) yg muncul sbg salah satu antagonis dinovel
3. Kera tung Pei (TongBei YuanHou), memiliki kesaktian yg bisa memindahkan matahari & bulan serta menyusutkan gunung
4. Kera Ma merah, memahami yin & yang & berumur panjang


Novel ttg sang panglima kera
Bila Sun GoKong memiliki novel berjudul Journey to the West, maka Yuan Gong (alias panglima kera TongBei) inipun memiliki novelnya sendiri yg berjudul Ping Yao Zhuan (The Sorcerer Revolt), novel ini ditulis oleh Feng MengLong (salah satu penulis paling produktif dari dinasti Ming) & Luo GuanZhong (penulis SamKok)
Kalo agan2 mau baca ebooknya bisa klik link dibawah ini

Si Raksasa Makhluk Pemakan Daging Manusia yang Menjadi Sadar

      ALAVAKA
      Si Raksasa Makhluk Pemakan Daging Manusia yang Menjadi Sadar
          Alavaka, yang tinggal di dekat kota Alavi, adalah pemakan daging manusia. Karena begitu galak, berkuasa, dan liciknya maka ia dikenal sebagai “si Raksasa”. Suatu hari, raja negeri Alavi pergi berburu rusa di hutan dan ia ditangkap oleh Alavaka. Sang Raja memohon agar ia dilepaskan, tetapi sebagai ganti dari kebebasannya itu ia harus mengirim satu orang setiap hari ke hutan sebagai persembahan untuk Alavaka. Setiap hari seorang tahanan dikirim ke dalam hutan dengan membawa sepiring nasi. Dikatakan bahwa untuk mendapatkan kebebasannya, tahanan itu harus pergi ke pohon tertentu, menaruh nasi di sana dan kemudian dia dapat bebas. Pada mulanya banyak tahanan yang dengan sukarela melaksanakan tugas yang ‘sederhana’ itu. Tetapi setelah waktu berlalu dan tak seorang pun yang kembali untuk menceritakan apa yang telah terjadi kepada tahanan lainnya, para tahanan harus dipaksa setiap hari untuk pergi ke hutan.
          Segera saja penjara menjadi kosong. Bagaimana sekarang cara raja memenuhi janjinya untuk mengirimkan seorang manusia setiap hari untuk santapan raksasa tersebut? Para menteri mengusulkan kepada raja agar meletakkan bungkusan-bungkusan berisi emas di jalanan. Mereka yang ditemukan mengambil bungkusan tersbut akan ditangkap pencuri dan dikirim kepada Alavaka. Lama-kelamaan, tak seorang pun berani mengambil bungkusan-bungkusan itu. Akhirnya usaha terakhirnya dalah raja mulai menangkap anak-anak untuk dijadikan persembahan. Permasalahan yang menakutkan ini menyebabkan kota tersebut menjadi sepi. Akhirnya hanya tinggal satu orang anak laki-laki dan ia adalah putra Sang Raja. Dengan berat hati, sang Raja memerintahkan agar sang Pangeran dikirim ke Alavaka keesokan paginya.
          Hari itu, Sang Buddha kebetulan berada di dekat kota itu. Ketika Beliau memantau dunia ini dengan mata batinNya pagi itu, Beliau melihat apa yang sedang terjadi. Karena rasa belas kasihNya kepada sang Raja, sang Pangeran, dan Alavaka, Sang Buddha seharian melakukan perjalanan pergi ke goa tempat raksasa tersebut dan pada malam harinya Beliau tiba di pintu gerbang goa tersebut. Si Raksasa sedang pergi ke gunung, dan Sang Buddha menanyakan penjaga gerbang apakah Beliau dapat bermalam di goa itu. Ketika penjaga gerbang pergi untuk memberitahukan tuannya tentang permintaan ini, Sang Buddha masuk ke dalam goa, duduk di tempat duduk si Raksasa dan membabarkan Dhamma kepada para istri raksasa tersebut.
          Ketika si Raksasa mendengar apa yang telah terjadi dari pembantunya, dia segera pulang ke rumah dengan sangat marah. Dengan kekuatan maha dasyatnya, dia menciptakan badai yang hebat dengan goncangan dan petir di hutan itu disertai guntur, kilat, angin, dan hujan. Tetapi Sang Buddha tidak takut. Alavaka kemudian menyerang Sang Buddha dengan melempar tombaknya menghantam Sang Buddha, tetapi sebelum senjata itu dapat menyentuh Beliau, tombak-tombak itu jatuh di dekat kaki Sang Buddha. Karena tidak dapat menakut-nakuti Sang Buddha, Alavaka bertanya :
       “Benarkah tindakan Anda, seorang manusia suci, masuk dan duduk di antara para istri pemilik rumah ketika pemiliknya sedang tidak di tempat?” Sang Buddha lalu bangkit dan akan meninggalkan goa itu.
          Alavaka berpikir, “Betapa bodohnya saya membuang-buang tenaga dengan mencoba menakut-nakuti pertapa ini”. Karena itu dia meminta Sang Buddha masuk ke dalam goa lagi. Si Raksasa memerintahkan Sang Buddha tiga kali untuk keluar dari goa dan tiga kali untuk masuk ke dalam goa dengan harapan di dapat membunuh Sang Buddha untuk meninggalkan goa tersebut untuk keempat kalinya, Sang Buddha menolak melakukannya dan berkata : “Saya tidak akan mematuhi perintahmu, Alavaka. Lakukan apa saja yang dapat kamu lakukan tapi Saya akan tetap tinggal di sini”.
          Karena tidak sanggup memaksa Sang Buddha melakukan apa yang diinginkan, Alavaka mengubah taktiknya dan berkata, “Saya akan menanyaimu beberapa pertanyaan. Jika engkau tidak dapat menjawabnya saya akan mengoyak jantungmu, membunuhmu, dan melemparkanmu ke seberang sungai”. Sang Buddha berkata kepadanya dengan tenang, “Tak ada seseorang pun, Alavaka, apakah ia seorang manusia atau dewa, pertapa, brahma atau brahmana, yang dapat melakukan hal itu terhadapKu. Tetapi jika engkau ingin menanyakan sesuatu, silakan lakukan”.
          Alavaka menanyakan beberapa pertanyaan yang dia pelajari dari orang tuanya yang juga mendapatkannya secara turun-temurun. Dia telah lupa pada jawabannya, tetapi dia harus melestarikan jawaban-jawaban tersebut dengan menuliskannya di atas daun emas.
          Pertanyaan tersebut adalah :
       “Apakah kekayaan terbesar bagi seorang manusia?"
      "Apakah yang dapat memberikan kebahagiaan tertinggi ketika seseorang menguasainya dengan baik?"
      "Apakah rasa termanis dari semua rasa?"
      "Jalan kehidupan mana yang terbaik?"
          Sang Buddha menjawab :
       “Kekayaan terbesar bagi seorang manusia adalah keyakinan. Doktrin/ajaran yang benar bila dikuasai dengan baik akan memberikan kebahagiaan tertinggi. Rasa yang paling manis adalah rasa kebenaran. Hidup yang bijaksana adalah cara hidup yang sepatutnya”.
          Alavaka  menanyakan beberapa pertanyaan lagi yang semuanya dijawab oleh Sang Buddha. Pertanyaan yang terakhir adalah :
       “Ketika meninggalkan dunia ini untuk menuju ke dunia/alam berikutnya, bagaimana agar seseorang itu tidak bersedih?”
          Jawaban Sang Buddha adalah :
       “Ia yang memiliki empat kebajikan ini - kebenaran, moral yang baik, keberanian, dan kemurahan hat maka kesedihan tidak akan ada ketika ia harus meninggal dunia”.
       Karena mengerti arti dari kata-kata Sang Buddha, Alavaka berkata, “Sekarang saya tahu apa rahasia dari kesejahteraan masa depanku. Adalah demi kesejahteraan dan kebaikan diriku, Sang Buddha datang ke Alavi”, Alavaka bersujud kepada Sang Buddha dan memohon agar ia diterima sebagai murid.
          Keesokan paginya ketika para petugas kerajaan Alavi datang bersama dengan putra raja, mereka terpana melihat pemandangan di mana Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada Alavaka yang mendengarkan khotbah itu dengan penuh perhatian. Ketika anak itu dituntun ke arah Alavaka, Alavaka merasa malu pada dirinya sendiri untuk menerima anak itu sebagai persembahan raja. Dan sebaliknya dia membelai kepala anak itu, menciumnya dan menuntunnya kembali kepada para petugas. Setelah itu Sang Buddha memberkati anak itu dan Alavaka.
       Tentu saja, perubahan dari Alavaka sang pemakan daging manusia, menunjukkan bagaimana Sang Buddha, dengan kebijaksanaan dan welas asihNya yang besar, dapat menjinakkan makhluk yang ganas serta mengubahnya menjadi murid yang lembut.
       

Seorang hartawan yang menjadi miskin

Anathapindika
(Seorang hartawan yang menjadi miskin)
 
      Anathapindika adalah pendana Vihara Jetavana yang didirikan dengan biaya lima puluh empat crores. Ia tidak hanya dermawan tetapi juga benar-benar berbakti kepada Sang Buddha. Dia pergi ke vihara Jetavana dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha tiga kali sehari. Pada pagi hari dia membawa bubur nasi, siang hari dia amembawa beberapa macam makanan yang pantas atau obat-obatan dan pada malam hari dia membawa bunga dan dupa.
      Setelah beberapa lama Anathapindika menjadi menjadi miskin, tetapi sebagai orang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapana, bathinnya tidak tergucang dengan kemiskinannya, dan dia terus melakukan perbuatan rutinnya setiap hari yaitu berdana. Suatu malam, satu makhluk halus penjaga pintu rumah Anathapindika menampakkan diri dalam ujud manusia menemui Anathapindika, dan berkata: “Saya adalah penjaga pintu rumahmu, kamu telah memberikan kekayaanmu kepada Samana Gotama tanpa memikirkan masa depanmu. Hal itulah yang menyebabkan kamu miskin sekarang. Oleh karena itu kamu seharusnya tidak memberikan dana lagi kepada Samana Gotama dan kamu seharusnya memperhatikan urusanmu sendiri sehingga menjadi kaya kembali.”
      Anathapindika menghalau penjaga pintu tersebut keluar dari rumahnya. Karena Anathapindika sudah mencapai tingkat kesucian sotapanna, mahluk halus penjaga pintu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia pun pergi meninggalkan rumah tersebut, dia tidak mempunyai tempat tujuan pergi dan ingin kembali ke rumah Anathapindika, tetapi dia takut pada Anathapindika jadi dia mendekati Raja Sakka, raja para dewa.
      Sakka memberi saran kepadanya, pertama dia harus berbuat baik kepada Anathapindika dan setelah itu meminta maaf kepadanya. Kemudian Sakka melanjutkan, “Ada kira-kira delapan belas crores yang dipinjam oleh beberapa pedangan yang belum dikembalikan kepada Anathapindika; delapan belas crores lainnya disembunyikannya oleh lelulur (nenek moyang) Anathapindika, dan lainnya yang buka milik siapa-siapa yang dikuburkan di tempat tertentu. Pergi dan kumpulkanlah semua kekayaan ini dengan kemampuan bathin luar biasamu, penuhilah ruangan-ruangan Anathapindika. Setelah melakukan itu, kamu boleh meminta maaf padanya.”
      Mahluk halus penjaga pintu tersebut melakukan petunjuk Sakka, dan Anathapindika kembali menjadi kaya. Ketika mahluk halus penjaga pintu memberi tahu Anathapindika mengenai keterangan dan petunjuk yang diberikan oleh Sakka, perihal pengumpulan kekayaannya dari dalam bumi, dari dasar samudera, dan dari peminjam-peminjamnya. Anathapindika terkesan dengan perasaan kagum kemudian Anathapindika membawa mahluk halus penjaga pintu tersebut menghadap Sang Buddha.
      Kepada mereka berdua, Sang Buddha berkata, “Seseorang tidak akan menikmati keuntungan dari perbuatan baiknya, atau menderita akubat dari perbuatan jahat untuk selamanya; tetapi akan tibalah waktunya kapan perbuatan baik atau buruknya berbuah dan menjadi matang.”
      Mahluk halus penjaga pintu rumah itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah mendengar kotbah Dhamma tersebut berakhir.
      Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnyabelum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah peerbuatan bajiknya belum masak’ tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak; ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik
      (Dhammapada 119 & 120)

Sabtu, 21 April 2012

ER LANG SHEN, DEWA PERKASA BERMATA TIGA

Asal usul
Sejak dulu sudah diputuskan bahwa manusia & dewa berbeda sehingga dilarang menjadi suami istri. Namun adik ke9 kaisar langit yg bernama Yao Ji justru melanggarnya & menikah dg seorang pelajar bernama Yang TianYou hingga dikaruniai 3 orang anak yaitu Yang Jiao, Yang Jian yg memiliki mata ketiga dikeningnya & Yang Chan. Kehidupan mereka sangat harmonis sampai pasukan langit datang kerumah mereka untuk menangkap Yao Ji & memenjarakannya dibawah gunung Tao Hua

Belasan tahun kemudian...
Nampak seorang pemuda bermata tiga berdiri dikaki gunung TaoHua sambil menggengam sebilah kapak pusaka ditangannya.

Sejurus kemudian....KRAAKKOOOOMM!!! BROOM! BOOM! Terdengarlah suara ledakan yg sangat memekakan telinga disertrai gempa bumi & tanah longsor seiring terbelahnya gunung TaoHua dihantam kapak sipemuda.

"Ibuuu, bagaimana keadaanmu? aku rindu sekali padamu!" teriak sipemuda sambil berlari menghampiri seorang wanita yg duduk bersila ditengah retakan gunung itu.

"Yang Jian kaukah itu? Ooh kau sudah besar nak, Ibu benar2 tidak akan mengenalimu lagi kalau bukan karena mata ketigamu itu. Bagaimana keadaan ayah & saudara2mu" jawab siwanita yg tidak lain adl Yao Ji.

"Ayah dan kakak pertama sudah wafat dibunuh pasukan langit, hanya aku dan adik ke3 saja yg selamat. jawab Yang Jian sedih.Yao Ji pun langsung shock & menangis sesenggukan mengethui nasib suami & putra pertamanya.

Setelah bisa menenangkan dirinya Yao Ji lalu berkata "bagaimana kau bisa jadi sesakti ini nak, jangan2 kau berguru pada iblis jahanam demi menolong ibu?".

"Tenang saja bu, seputus asa apapun aku tidak akan pernah berhubungan dg aliran sesat, guruku adl pendeta Yu Ding dari Guan Jiang Kou" jawab Yang Jian. Mendengar jawaban petranya, Yao Ji pun menajdi tenang karena mengetahui pendeta Yu Ding sebagai salah 1 dari 12 pertapa suci murid YuanShi TianZhun (1).

"Ayo bu, sekarang kita pergi menemui adik ketiga yg sedang bertapa diHuaShan, dy pasti senang sekali bertemu dengamu".

Yao Ji baru saja hendak mengiyakan permintaan putranya itu ketika tiba2 mersakan firasat buruk sehingga dypun berkata "Baiklah nak, tp sekarang ibu sangat haus jadi tolong ambilkan ibu air dulu ya...".

Setelah Yang Jian pergi untuk mencari air, Yao Ji membalikan badanya & berkata 'Dy sudah pergi, kalian boleh melakukannya sekarang" Sekonyong2 terdengarlah suara misterius "Baiklah tuan putri & terimakasih atas pengertian anda, percayalah kami melakukan ini semata2 karena diperintah oleh kaisar langit"

Beberapa saat kemudaian Yang Jian kembali membawa air, namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati ibunya sudah mati gosong terbakar. Baru saja dy hendak menangis sambil memeleuk jasad ibunya kertika tiba2 dy menyadari bahwa matahari hari lebih terik & silau daripada biaanya. Dypun mendongak keatas & melihat 10 dewa matahari berjejer disana.

"Apakah ini perbuatan kalian" tanya Yang Jian yg sudah mulai bisa menebak apa yg terjadi.

"benar kami diutus kaisar langit untuk membunuh adik peremupannya, namun bersyukurlah karena kami akan melepaskanmu sesuai permintaan terahir ibumu!!" jawab kesepuluh matahari dg angker.

"Omong kosong, justru akulah yg tidak akan melepaskan kalian!" teriak Yang Jian seraya melesat kearah 10 matahari.

Swiiing! Swess! Cres! Dalam waktu singkat saja Yang Jian sudah berhasil membabat matahari ke1, 2 3 dan dilanjutakn dg matahari ke4 & 5 yg jg menjadi korban keganasannyaMenyadari ketangguhan pemuda itu, 5 dewa matahari yg tersisa tidak berani main2 & segera mengeluarkan formasi pamungkasnya untuk membakar Yang Jian. Namun rupanya formasi itupun tak mampu menghentikan amukan Yang Jian, sehingga matahri ke 6,7,8 & 9 ahhirnya tewas jg tertebas kapaknya pemuda yg sedang kesetanan itu. Tidak puas hanya sekedar membunuh & mencincang mayatnya, Yang Jian kemudian mengangkat sebuah bukit untuk menindih mayat mereka (2)

Kini tinggal 1 matahari tersisa yg langsung lari terbirit2 karena tidak mau jadi korban berikutnya, namun mana mau Yang Jian melepaskannya & terus mengejarnya. Setelah berkejar2an selama berhari2, simatahari terahirpun kehabisan nafas & ahirnya jatuh terjerembab dilaut barat.

Saat dy sudah pasrah menunggu kapak Yang Jian menggorok lehernya tiba2 terdengarlah sebuah teriakan "TAHAN!" diikuti munculnya sekelebat bayangan yg menamengi dirinya.

"Jangan ikut campur nona, ini sama sekali bukan urusanmu!" bentak Yang Jian pada sipenghadang yg ternyata adl wanita cantik.

"Tuan muda Yang, aku adl putri ketiga Raja Naga Laut Barat, ketika matahri jatuh kelaut tadi menyebabkan airnya mendidih sehingga aku menanyakan apa yg terjadi pada dewa tanah" jawab putri naga .

'Baguslah kalau kau sudah tahu masalahnya, sekarang cepat minggir & biarkan aku mencincang jahanam ini!".

"Aku memahami perasaanmu & mungkin aku jg akan bertindak sepertimu bila berada dalam posisimu. Tp pikirkanlah, ibumu tak akan hidup lagi meskipun kau membunuhnya, sebaliknya kehidupan manusia dibumi akan terancam bila tak ada matahari yg menyinarinya. Coba bayangkan berapa banyak anak yg akan kehilangan ibunya bila hal itu terjadi"

Yang Jian terdiam mendengar argumen sang putri yg masuk akal, setelah merenung sebentar dypun menurunkan kapaknya & membiarkan sang dewa matahari pergi.

Baru saja simatahri pergi, tiba2 Yang Jian jatuh pingsan tepat dipangkuan sang putri naga (maklumlah dy sebenarny sudah sangat kelelahan setelah mengejar matahari berhari2). Sang putri jadi kikuk setengah mati & tidak tahu harus berbuat apa. Namun karena dy tak tega meninggalkan pemuda tampan itu pingsan sendirian disitu, maka dypun membiarkan Yang jian tidur dipangkuannya.Ahirnya timbullah benih2 cinta diantara Yang Jian & putri naga, sehingga merekapun menikah.

Belakangan kaisar langit meenyesali kekejamannya terhadap adiknya & berusaha menebus kesalahannya dg mengangkat Yang Jian dan adiknya menjadi dewa. Yang Jian diangkat sebagai dewa penegak hukum langit bergelar dewa ErLang, sementara Yang Chan diangkat sbg dewi penunggu gunung HuaShan bergerlar Shan ShengMu. Namun karena Er Lang belum bisa memaafkan pamannya, sehingga dy menolak tinggal dikayangan & memutuskan untuk menetap dikota GuanJiang Kou saja (& itulah alasan mengapa saat Sun GoKong mengacau kayangan dewa ErLang tidak ada dilangit & harus dipanggil dulu dari GuanJiang Kou)

catatan
(1) YuanSi TianZun adl salah satu dari 3 dewa tertinggi dalam Taoisme
(2) Bukti ini masih ada sampai sekarang & menjadi obyek wisata


Para pengikut Erlang
Dalam berbagai film, Erlang umumnya hanya ditemani oleh anjing setianya saja yg bernama Xiao Tian Quan (anjing langit), padahal dy masih punya banyak pengikut setia lainnya, yaitu
-6 bersaudara dari MeiShan, mereka berenam angkat saudara dg Er lang saat ErLang hendak membunuh naga jahat yg menyebabkan banjir. nama mereka adl Kang, Yao, Li, Zhang, Guo Shen, Zhi Jian
-Putri ke3 laut barat, istri tercintanya
-Bocah emas & perak, mereka adl 2 siluman kecil yg diangkat menjadi murid olehYang Jian dalam kisah Feng Shen
-Selain itu Er Lang jg memelihara seekor anjing langit, elang & kuda putih.

Senjata & kesaktian
-Tombak bermata tiga, dalam novel FengShen tombak ini adl pemberian murid Er Lang yg bernam bocah emas & perak, namun dalam versi lain ada jg yg bilang tombak ini merupakan penjelmaan naga jahat bertanduk 3 yg ditklukan ErLang
-Kapak sakti, kapak ini adl senjata pertama yg dimiliki Yang Jiian & dipakainya untuk memebelah gunung Tao
-Busur sakti, dipakai Er lang untuk memanah sepasang burung Hong jahat dari Zhong Luo
-Mata langit, mata ketiga yg ada dijidatnya ini berfungsi untuk melihat siluman, memebedakan yg asli-palsu dan bisa jg menembakan proyektil untuk menyerang musuh2nya
-Ilmu 72/73 perubahan, meungkinkannya untuk berubah jadi apapun yg dy mau.

Evoulusi cerita
Diperkirakan dewa ErLang pertama kali dikenal pada dinasti Han, namun saat itu dy bukanlah dewa penegak hukum langit melainkan dewa pencegah banjir. Nama aslinya jg bukan Yang jian melainkan Li ErLang, putra seorang pejabat yg berhasil membunuh seekor naga jahat yg suka menyebabkan banjir.
Pada dinasti Tang identitas dewa ErLang berubah lagi, kali ini nama aslinya adl Zhao Yu, seorang pendeta sakti yg membunuh naga jahat penyebab bajir selama dinasti Shui
Ahirnya pada diansti Song, seorang kasim bermarga Yang berhasil menyelamtkan selir kesayangan kaisar saat hendak diperkosa dikuil dewa ErLang & dari situlah kemudian muncul desas desus bahwa kasim Yang adl jelamaan dewa Er Lang & dewa ErLang sebenarnya bermarga Yang (Yang Jian)
Er Lang dalam berbagai legenda
-FengShen YanYi (Creation of God)
Disini ErLang muda dieprintahkan gurunya untuk membantu pasukan raja wu yg sedang memerangi raja Zhou
-Journey to the west
Dalam kisah ini ErLang berduel & ahirnya berhasil menringkus sikera nakal Sun GoKong
-Lotus Lantern
Dongeng ini mengisahkan ttg ErLang yg menindih adiknya dibawah gunung HuaShan, belakngan keponakannya yg bernama Chen Xiang mengalahkan Er Lang & membebaskan ibunya.
-8 dewa
setelah dikalahkan Chen Xiang, Er Lang jadi uring2an & sering melampiaskan kekesalannya pada anjingnya, sehingga membuat sianjing melarikan diri kedunia & membuat onar. Ahrinya ErLang & anjingya itu didamaikan oleh 8 dewa
-Strange Tales Liao Zhai
Ayah Xu FangPing yg tidak berdosa diseret keneraka & disiksa habis2an gara2 pejabat neraka sudah disuap almarhum tetangganya (yg merupakan musuh bebuyutan ayah Xu selama hidupnya). Xu Fangping kemudian mengadukan hal ini pada Er lang yg langsung pergi kenerka untuk menyelamatkan tuan Xu & sekaligus menghukum pejabat2 neraka yg korup

Kamis, 19 April 2012

TONGTIAN JIAOZHU, PEMIMPIN AGUNG PARA SILUMAN


Pendahuluan
Saat alam semesta baru saja terbentuk , tersebutlah 3 orang sesepuh dewata yaitu YuanShi TianZun, TaiShang LaoJun & TongTian JiaoZhu yg membagi Taoisme menjadi 2 aliran, yaitu;

-Aliran pegunungan (Chan) yg dipimpin oleh YuanSi TianZun & TaiShang LaoJun.
Pengikut dari aliran ini berasal dari orang2 suci yg mayoritas berwatak welas asih, sabar & suka menolong. (dewa2 macam Er Lang, Nacha, dewa petir, dewa pagoda dsb tergabung dalam aliran ini)

-Aliran kepulauan (Jie) yg dipimpin TongTian JiaoZhu.
Berkebalikan dg aliran pegunungan yg dihuni oleh orang2 suci, aliran kepulauan justru diisi oleh siluman2, baik yg berasal dari hewan, tumbuhan ato bahakan benda mati yg berwatak arogan, egois, pencemburu & gemar mengumbar hawa nafsu (1).

Karena sifatnya yg sangat bertolak belakang itulah kedua aliran ini tidak pernah akur & sering bentrok diberbagai kesempatan


Pertempuran para dewa
(disarikan dari novel FengShen YanYi bab 76-78 & 82-84)

Raja Zhou (Hokkian; Tiu Ong) dari dinasti Shang adl tiran terkejam dalam sejarah China yg terkenal suka menindas rakyat. Karena tidak tahan lagi dg kekejamannya maka rakyatpun ahirnya memberontak dibawah pimpinanan raja Wu (Hokkian; Bu Ong). Dalam peperangan itu pasukan raja Wu mendapat bantuan dari para dewa & calon dewa dari aliran Chan, sementara pasukan dinasti Shang didukung oleh para siluman2 dari aliran Jie. Karena dewa2 aliran Chan berada dipihak yg benar maka mereka selalu menang & mengalahkan murid2 aliran Jie.

Setelah melalui perjuangan yg panjang & melelahkan pasukan raja Wu yg dipimpin Jiang ZiYa (Hokkian; Kiang Cu Gee) sudah semakin dekat dg ibukota dinasti Shang, namun sesampainya dilintasan Jie Pai perjalanan mereka terpaksa terhenti karena dihadang oleh kabut merah yg sarat dg kekuatan jahat.

Dari balik kabut muncullah sesososk pertapa tua yg nampak sangat agung & berwibawa. "Salam paman guru, saya beserta seluruh murid2 aliran Chan memberi hormat pada paman" kata Jiang ZiYa sambil membungkuk hormat pada sang pertapa yg ternyata adl TongTian JiaoZhu, mahaguru dari aliran Jie.

"Hmmm, bagus kau masih mengenalku sebagai paman gurumu, tapi kenapa kalian seenaknya membunuhi murid2 aliran kami heh?" saut TongTian ketus.

"Sejak dulu guru selalu mengajari kami untuk menghormati aliran paman, sayang ada beberapa murid paman yg membela raja Zhou sehingga.......".

"Sehingga kalian boleh seenaknya membantai mereka karena aliran kalian aliran putih sementara aliranku inialiran sesat, begitu? bentak TongTian memotong kalimat JianZiya. "Sudah tidak perlu munafik lagi, dari dulu aku sudah tahu kalian memang selalu meremehkanku, tp CUKUP SAMPAI DISINI!" lanjutnya sambil mengibaskan tangannya menyibak kabut merah yg menutupi lintasan JiePai. Sekonyong2 nampaklah sebuah benteng pertahanan yg sangat kokoh & angker dilengakpi dg 4 pedang pusaka dikeempat gerbangnya.

"Yg ada dihadapan kalian adl Jiu Xian Zhen (formasi pemusnah dewata) ciptaanku & bila kalian ingin pergi keibukota Shang maka harus melewatinya dulu. Tapi kuperingatkan formasiku ini sangat sempurna & tidak punya kelemahan, sehingga tanggung sendiri akibatnya kalau kalian berani menerobosnya!" tantang sang mahaguru.

Melihat keangkeran Jiu Xian Zhen para dewa alrian Chan keder jg, apalagi merekapun mahfum dg kehebatan ilmu paman gurunya itu sehingga tidak berani bertindak sembarangan. Tiba2 muncullah seberkas sinar keemasn yg sangat indah dilangit disertai munculnya dua mahaguru aliran Chan yaitu YuanShi TianZun & TaiShang LaoJun.

"Hahaha adik TongTian kenapa kau galak sekali, lihat anak2 itu sampai ketakutan begitu. Bila kau memang ingin bermain2 bagaimana bila aku saja yg melayanimu" kata LaoJun santai seraya menggiring kerbaunya memasuki Jiu Xian Zhen. Begitu LaoJun tiba digerbang utama dy langsung disambut oleh pedang pusaka yg terbang menghujam kearahnya, namun sekonyong2 muncullah pagoda emas yg melindungi tubuh Lao Jun sehingga dypun dapat melewati Jiu Xian Zhen dg selamat tanpa terluka sedikitun.

"Nah bagaimana? Nampaknya formasi pemusnah dewamu itu tidak begitu hebat jg ya?" kata LaoJun meledek.

"Puih jangan melucu Li Er (2), kau baru melewati 1 gerbang & masih ada 3 yg tersisa! Kita lihat saja bagaimana kau mengatasi sisanya" saut TongTian geram.

"Wah masih ada 3 lagi? Aduh adik, tega benar kau pada kakek tua ini.... untunglah aku membawa beebrapa teman untuk membantuku" jawab LaoJun ringan seraya menunjuk 2 orang biksu India disampingnya yg bernama JieYin (3) & ZhunTi

Kini Tongtian baru sadar akan kehadiran Jie Yin & Zhun Ti yg merupakan mahaguru tertinggi Budhisme kala itu (4). "Mau apa kalian para biksu kesini, bukannya baik2 membaca sutra malah ikut campur urusan orang lain" gerutu TongTian.

Dengan tenang JieYn pun menjawabnya"Amithaba, kami para biksu memang biasanya menghindari kekerasan, sayangnya formasi pemusnah dewamu itu terlalu membahayakan umat manusia sehingga kami terpaksa ikut campur, apalagi LaoJun & YuanShi TianZun sudah berbaik hati mengijinkan kami menyebarkan Budhisme diTiongkok, sehingga kamipun harus membalas budi mereka".

"Terserah! Tapi jangan katakan aku menindas agama kalian bila kalian berdua tewas oleh formasiku" balas TongTian ketus.

Tanpa dikomando lagi keempat mahaguru; TaiShang LaoJun, YuanShi TianZun, Jie Yin & Zhun Ti segera memasuki Jiu Xian Zhen yg langsung disambut oleh keempat pedang pusaka & berbagai jebakan maut lainnya. Namun rupanya kedahsyatan Jiu Xian Zhen tidak ada apanya dibanding kesaktian 4 mahaguru ini sehingga dalam waktu singkat saja benteng pemusnah dewa itupun berhasil dijebol juga.

Melihat formasi kebanggaannya hancur lebur membuat TongTian sangat malu & murka sehinga dypun segera menggempur keempat mahaguru itu dg ganasnya. TongTian JiaoZhu sebenarnya memiliki kesaktian yg hampir tidak ada bandingannya didunia ini, tp karena pertarungan ini sangat tidak adil (4 lawan 1) sehingga lama2 dypun keteteran jg & ahirnya melarikan diri....

Setelah musnahnya Jiu Xian Zhen para dewa aliran Chan bernapas lega & mengira tidak akan ada lagi gangguan dari TongTian & murid2nya, saipa tahu sesampainya di lintasan mereka kembali menjumpai sebuah formasi iblis yg bahkan lebih angker dari Jiu Xian Zhen. "Aduuuuuh mau apa lagi sih kakek tua itu, apa dy belum puas dihajar sampai lari terkencing2 seperti dulu" gerutu NeZha kesal.

Tidak lama kemudain datanglah utusan TongTian yg memberitahu bahwa formasi itu bernama Wan Xian Zhen (formasi pembantai puluhan ribu dewa) & para dewa aliran Chan diundang memasukinya untuk beradu ilmu. Berbeda dg sebelumnya, pertempuran kali ini bukan hanya melibatkan para mahaguru tp jg mengadu murid2 senior dari kedua aliran, rincian singkat jalannya pertempuran adl sebagai berikut;

-Siluman kura2 berjanggut emas (aliran Jie) mengalahkan Guang Cheng Zi & Chi Jing Zi (aliran Chan) tp dy balik dikalahkan oleh Zhun Ti
-Siluman singa biru & gajah putih (Jie)ditaklukan dewa Wen Shu & Pu Xian (Chan), kedua siluman itu kemudian dijadikan tunggangan kedua dewa itu
-Jin Gong Xian (Jie) ditaklukan CiHang DaShi (Chan)
Setelah menaklukan ketiga siluman atas petunjuk JieYin. Wen Shu, Pu Xian & CiHang DaShi memutuskan pindah keagama Budha & menjadi Bodhisatwa Manjusri, Samanthabrada & Kwan Im.
-GuLing ShengMu (Jie) mati dihisap ratusan nyamuk yg emnhisap darahnya
-JinLing SheMu yg merupakan tangankanan TongTian membunuh putri pertama kaisar langit yg bernama putri LongJi & suaminya, para dewa aliran Chan kemudian mengeroyok JinLing ShengMu yg ahirnya tewas ditangan pertapa Ran Deng (5)
-28 dewa rasi bintang (Jie) dibantai habis oleh murid2 aliran Chan

Melihat gugurnya murid2nya membuat TongTian jadi mata gelap & hendak menggunakan bendera saktinya untuk memusnahkan para dewaaliran Chan, beruntung senjata pemunah masal itu sudah dicuri & disembunyikan oleh dewa kuping panjang (mantan murid TongTian yg membelot kealiran Chan). Mengetahui pengikutnya sudah hampir habis & senjatanya jg sudah tidak ada membuat TongTian kehilangan semangat bertempurnya sehingga ahirnya dapat diringkus dan dibawa pergi untuk disuruh bertapa kembali oleh gurunya yg bernama HongJun LaoRen.

(1) Meskipun sering digambarkan jahat dilegenda2 namun dalam Taoisme yg sebenarnya aliran Jie bukanlah aliran sesat
(2) TongTian senang memanggil TaiShang LaoJun dg sebutan LiEr
(3) Jie Yin konon merupakan cikal bakal/reinkarnasi sebelumnya dari Budha RuLai
(4) Dalam sejarah yg sebenarnya belum ada Budhisme pada dinasti Shang
(5) Pertapa Ran Deng adl guru dari dewa pagoda Li Jing

TongTian & murid2nya dalam legenda FengShen
TongTian JiaoZhu dalam legenda2 lain
Selain dalam novel Feng Shen Bang, TongTian jg sering muncul sebagai antagonis dalam legenda2 lainnya. Misalnya dalam cerita 8 dewa TongTian murka karena murid kesayagannya yg bernama siluman kerang berpindah kealiran Chan. TongTian kemudian membuat kekacauan dihari pengagnkatan siluman kerang menjadi dewi, tp kemabli berhasil ditaklukan oleh TaiShang LaoJun & dewa2 lain. selain itu TongTian jg muncul dalam novel jendral DiQing (seorang jendral kenamaan dr dinasti Song), disini TongTian kembali meneggelar formasi iblisnya untuk mencelakai jendral DiQing yg didukung dewa2 aliran Chan. 

Sabtu, 17 Desember 2011

5 Pelajaran Berharga

1. Pelajaran Penting ke-1
Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan kuis
mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal kuis, sampai pada soal yang terakhir.
Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ? Saya yakin soal ini cuma "bercanda". Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi,berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya
tahu nama depannya... ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau tidak. "Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor. "Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas "hallo"! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".

2. Pelajaran Penting ke-2 Penumpang yang Kehujanan
Malam itu , pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi
yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama . Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : " Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat...hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu" Tertanda Ny.Nat King Cole.

Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA

3. Pelajaran penting ke-3 :Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani.
Di zaman es krim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya "Berapa ya,... harga satu ice cream sundae?" katanya. "50 sen..." balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya.. .. "Wah... Kalau ice cream yang biasa saja berapa?" katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen" kata si pelayan sambil uring-uringan.
Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. "Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..."ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus
melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar dikasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu.
Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang "layak"..... .

4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan Kita
Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan.
Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu
tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan.
Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarel awan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan
penyakit itu. Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.
Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku". Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar...katanya
"Apakah saya akan langsung mati dokter... ?"Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah...bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya... .

Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang,
Mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan,
dan Joget & nyanyilah seolah tidak ada yang nonton.

... DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG...